TRAGEDI MARCO SIMONCELLI

SELAMA gelaran motoGP sejak 1949, sudah 25 pembalap tewas di sirkuit. Terakhir adalah Marco Simoncelli yang tewas mengenaskan di Sirkuit Sepang, Malaysia. Pembalap yang baru berusia 24 tahun itu mengembuskan napas setelah kepalanya dilindas sepeda motor yang ditunggangi pembalap lain.

Tragis. Ya, kematian Simoncelli yang dikenal sebagai pembalap nyentrik dan berani itu sangat mengenaskan. Lebih tragis lagi –meski tidak mungkin menjadi juara dunia 2011 karena sudah digenggam Casey Stoner–  ajal itu menjemput di kala prestasinya sedang menanjak.
Kematian dalam ajang adu balap, bukanlah hal mengejutkan. Risiko besar itu selalu menjadi ‘teman’ para pembalap adalah kecelakaan. Dan, imbas pahit kecelakaan adalah luka-luka atau meninggal.
Itulah risiko yang sudah pasti disadari Simoncelli saat memutuskan hidup menggeluti dunia balap. Dia pun juga pasti sudah mengetahui, bisa saja nyawanya terbang saat berlomba. Namun, sebagai manusia, tentu dia tidak pasrah saja menanti jemputan ajal saat memacu sepeda motor.
Sebagai pembalap profesional, Simoncelli tentu sejak dini sudah ‘mengamankan diri’ dari kemungkinan-kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal. Sebagai salah satu pembalap elit dunia, keterampilan dan keahliannya berkendara secara cepat namun aman, juga tidak diragukan.
Advertisements