Kalian Boleh Menghina Kami

by-nuru nonami

“dia memang anak haram, iya anak haram”
beberapa ibi ibu yang memojok di warung itu menunjuki kearah jalanan sempit yang disebut gang. Sementara salah seorang anak mengumpatnya

“anak haraam”

wanita itu hanya terus memangku jalan, biasa, datar dan sedikit angkuh. Kakinya yang jenjang putih dan tampak terawat itu menyusuri gang kumuh yang tampak tercemooh. Untuk apa dia mendengar kalimat kalimat itu bila itulah yang dia emban saat ini.

greeeeek *suara pintu
“ibu? sudah makan? ini bu,” dia menyodorkan sebungkus makanan yang ia buka dari tasnya.”

“dari mana Ris? kamu pergi lagi ketempat kotor itu?”

“kenapa ibu bilang seperti itu? memangnya itu bukan tempat ibu dulu?ibu lupa?”

Risma pergi keluar rumah,membanting kata lalu bergegas untuk dikerubuti umpatan ibu ibu gang kembali.

persetan batinya,dia hanya ingin makan dan bisa terus hidup, ia bukan orang yang munafik, ia hanya jujur dengan apa yang ia hadapi,yang ia kerjakan, bukan menjadi anak yang sok baik. itulah dia.

Duri

mata yang mengindahkan itu
yang memburukan,adalah mata mata
yang memburukan adalah pembicara

ditanganya itu menggenggam segumpal darah
yang siap dikucurkan
yang siap untuk ditenggelamkan
yang maunya di berikan
oleh dan kepada bunganya
hanya bunganya

mendekap bunganya,dan menusuk kehatinya
bagi siapa yang menggenggam bunganya
mengambil dan mengarahkan
menikam dan membelit ke arah bunganya
dan bunga berkata
terimakasih