MY LOVE TEACH part2

Libur akhir tahun pun datang, jam mengajarku usai ditahun ini. Kesan lega menyelimuti kesendirianku selama ini. Meskipun sendiri aku selalu ditemani olehnya. Aku sangat menyukainya, begitu menyukainya

***

sepulang sekolah ia selalu aku antarkan pulang mengendarai sepedaku. Kami bukanlah pasangan SMU. Kami hanya teman kumpul dan nongkrong, namun sering teman teman mengatakan aku ini pacar Ester, kami hanya sepasang manusia yang ditakdirkan berdua, saling nyambung ngobrol dan memilki kesukaan yang sama. Hanya itu saja. 

Banyak kenangan yang kami ukir bersama hingga tak dapat lagi kami menghitungnya. Suau hari kami masing masing menyukai orang lain. Dan ternyata yang kami sukai itu adalah pasanganya. Entahlah mungkin kebetulan saja.

“Est, kenapa kau tak cari pacar? sautku ketika kami sedang bersama-sama dengan teman teman yang lainya.

“tidak ada yang mau denganku kecuali kamu.” dia tertawa terbahak bahak diikuti teman teman lainya.

“iya benar kata Ester Bin, cuma kamu yang mau sama dia.”

mereka semua tertawa, mereka tidak sedang menertawakanku. Mereka hanya bercanda, aku tau itu. Namun aku berfikir lain kali ini, meskipun mereka selalu berkata seperti itu. Kali ini aku menangkap situasi ini dengan nada berbeda.

sepulang dari nongkrong aku menelpon Ester. Aku menanyakan apakah dia tidak ingin mempunyai pacar,

“ahahaha, kenapa kamu tanya itu? tentu saja aku ingin punya pacar, siapa juga yang tidak ingin punya pacar, memangnya aku mau sama-sama kamu terus hahaha”

pernyataannya sedikit membuatku lega. Benar benar lega. Ternyata ia hanya bercanda soal perkataanya tadi.

Banyak hal yang kami lakukan bersama sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berteman jarak jauh. Sedikit aneh didengar, Namun ini yang terjadi. Ester kembali ke tanah kelahiranya. Dan aku tetap dikota ini.

***

Tidak sadar aku menitikan air mata, kerinduanku pada Ester rasanya ingin meledak, namun aku masih bisa terus melihatnya,meskipun hanya lewat foto. Foto yang Ester Kirimkan lewat email dulu. Hanya itu yang dapat aku lakukan.

Lama sekali tak berjumpa dengan Ester. Rasanya sudah lama aku merindukanya. Rasanya baru saja aku masih bersepeda dengan Ester, masih mendengar gelak tawanya yang riang. Akankah aku akan melihatnya lagi?

***

Aku akan sangat senang bila bertemunya kembali. Ester aku akan mengunjungimu. Tunggu aku ya, aku akan menceritakan banyak hal tentangmu, sekarang aku sudah menjadi  seorang guru , tidaklah kau melihatku mengenakan baju ini sehari hari. Aku tak lagi mengenakan seragam putih abu abu . Aku yang biasa dipanggil guru karena tidak mengerjakan tugas, sekarang aku yang memanggil anak untuk aku tegur. Semuanya sudah aku capi, namun kau tidak melihatku, sama saja Est. Meskipun kita hanya sahabat.

“permisi, permisi selamat siang” terik  menerpaku sejak pagi tadi, meskipun aku sedikit kebingungan dengan alamat yang aku terima dari berbagai sumber mengenai alamat Ester, namun aku tidak akan lelah.

“permisi selamat siang ” aku mencoba beberapa kali memanggil dan mengetuk pintu. Seorang Ibu terlihat keluar dan membukakan pintu untuku.

“Maaf mencari siapa pak?”

“Ester ada bu?

“oh iya pak silakan masuk dan duduk saya panggilkan non Ester”

Ah leganya, aku sangat senang akhirnya waktu pertemuanku akan tiba, dengan Ester. Teman , teman yang aku suka.

“om cari saya”

seorang anak kecil datang dan menyapaku dengan sebutan om.

“adek, Om mau mencari orang yang bernama Ester. “

saya ester om.”

Apa ini? anak kecil? apakah aku sedang dipermainkan. Apakah dikira aku ini orang yang datang daari belakang rumah dan datang menanyakan seorang anak kecil. Aku dari jauh ingin Bertemu Ester. Bukan anak kecil itu.

Rasa kesal ku ini aku bawa sepanjang perjalanan pulang. Nmaun rasa Penasarannku bertambah, Jangan jangan Ester sengaja melakukan itu karena dia malas bertemu denganku, ataukah dia marah karena dulu saat dia memintaku datang mengunjunginya aku tidak bisa datang karena aku sedang ujian skripsi, hal yang paling menentukan masa depanku.

aku memutar arah di belokan depan, aku kembali menuju rumah itu. sebelum kesana aku mampir kesebuah warung dekat rumah Ester.

“bu,,pakah benar itu rumahnya Ester.”

“iya pak benar,itu rumahnya Ester”

sial batinku, ibu ini saja mengiyakan.

“Ester yang cantik itu kan bu? usianya sekitar 26 tahun yang rambutnya lurus, hidungnya mancung, dia Etnis Tionghoa.”

“26?” ibu itu mengulang kata kata ku.

“iya buk benar.”

ibu itu berbisik ke ibu yang lain yang ada disebelahnya. Aku kembali mengulang kata kataku tadi.

“kalau setau saya Ester itu usianya sekitar 2 tahunan.”

“ibu membohongi saya juga”nadaku sedikit tinggi.

“sebentar nak, saya ingat juga kalau ibunya Ester itu juga bernama Ester, Ester yang berumur 2 tahunan itu Esterlina, ibunya kalau tidak salah Esterlinda. betul?”

anak? anak? Ester sudah mempunyai anak? lalu dengan siapa dia menikah, jika 2 tahun anaknya apa saat itu aku sedang ujian, ya aku sedang ujian skripsi, saat dia memintaku datang. Apa dia menikah dan ingin mengundangku?

***

aku benar benar syok sejak saat itu, sejak aku datang kerumah Ester, dan disana kau bertemu buah hatinya dengan orang lain, yang menjadi suaminya. Namun yang membuatku terluka bukan itu saja, penyesalanku tak pernah mengungkapkan perasaanku ini, membuatku tak bisa bertemu dengannya. Dengan Ester Sahabatku, teman, dan orang yang aku suka. Dia sudah bahagia disana, bersama anak, suaminya, dan juga disisi Nya.

Mungkin aku terlambat, putus asa, hancur berkeping keping, terombang ambing dan tidak berpendirian. Namun aku masih harus tetap melanjutkan hidupku.

“jangan biarkan orang lain tau suasana sedih hati kita”

hanya itu kata kata yang aku ingat dari Ester. Dan aku kembali melanjutkan Hidup

***

Sudah lama aku tak mengetahui gadis itu datang ketaman belakang rumahku, sejak liburan ini . Sejak aku terus saja dirumah, mengurung pikiran dan sendiri. Aku ingin tau apa yang ia lakukan dibelakang rumahku. Aku ingin tau dan aku kesana, Duduk diayunan , sangat nyaman. Aku merasa nyaman .

dan aku perhatikan sekeliling dari sini, menengok kebelakang, berjejeran rumah, lihatlah betapa egoisnya perumahan ini, mematok tembok tinggi agar tak dapat diketahui apa apa yan g dilakukan tetangganya. Ah lucunya perkataanku ini. Aku memperhatikan salah satu jendela yang dalamnya sangat terlihat dari bawah sini. Dan seseorang berada di tepinya, apa mungkin dia juga sedang melihatku, dia mulai menampakan tubuhnya dari jendela.

Bersambung.

MY LOVE TEACH part2…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s