MUDA

Pijatan pijatan hangat mengepak ketubuhku. Perlahan mulai turun turun lalu sampai.

Suatu siang, dimana aku berbaring menatap yang lainya sedang terlelap. Cahaya memang masih dapat dipandang dari sini
dari lubang lubang kecil yang mana udara bisa berhembus kedalam, kipas siang berputar putar, seiring usapan lembut dan hangat di punggungku makin terasa.

“sebenarnya wanita sepertiku bukan takut untuk kehilangan laki laki ,aku hanya ingin menunjukan jika wanita nakal sepertiku juga punya rasa tulus”

sayup sayup aku dengarkan sebelumnya aku sedikit terlelap.

selesai itu aku hanya diam dan mengangguk angguk jika ditanya. Betapa berat memang mataku untuk menelusuri bangkitnya tubuhku yang sedikit sempoyongan. Lagi lagi aku memimpikanya, aku tidak percaya. Sedikit membuka hati namun, aku selalu memikirkan wanita paruh baya itu. Pelik memang.

Ingin rasanya kuurungkan perjalanan kerjaku, memilih angkot berwarna kuning jalur selatan dan pergi ke Rumi. Sedikit buncah, sampai beberapa kernet berlalu lalang aku hanya menggelengkan kepala.

Bersambung….

Advertisements