Mimpi ke-2

Semalam tepatnya, setelah memimpikan apa yang ia sembunyikan bahwa ia sudah menikah (masih menjadi pertanyaan) atau lebih tepatnya tinggal serumah dengan seorang wanita dan juga anak laki laki. Hari berikutnya aku memimpikanya kembali, berbeda cerita, kali ini aku temukan dia seperti biasa, dia menggenggam tanganku didepan banyak orang. Aneh memang, aku hanya diam saat dia menatapku, berbeda memang. Dia selalu datang kedalam mimpiku dengan berbagai macam sifat dan karakter.

Mimpiku bukanlah sekadar mimpi biasa, semalam terjadi dan aku langsung terbangun pukul 1.30 (kira kira).

Keraguanku semakin kuat, sudah beberapa hari dia tidak mengirim kabar. Aku jadi teringat ketika pertama bertemu dan.. kami balikan. Aku yakin ini terakhir kalinya aku mungkin akan pacaran. Sudah bosan aku membangun hubungan baru lalu entah jadi apa. Entah jadi apa aku sekarang, tempat untuk aku bersandar telah lapuk (aku merasakanya), matanya, ucapanya, sekalipun dia tidak mengatakan dia sungguh sungguh mencintaiku. Sedih memang aku beranggapan ini saatnya berlabuh, tapi dermaga semakin jauh, aku terseret ombak dan hanya bisa menatap dermaga dan berkata, aku ingin pulang.

Mimpi

Aku tidak ingin bermimpi karena membawa penderitaan. Mimpi itu begitu nyata ketika aku datang kepadanya. Aku singgah disebuah rumah dengan pelataran yang cukup luas dan dihadapanku ada sebuah pohon rindang. Ku dipersilakan masuk olehnya, ingin kuurungkan tapi aku ingin menelisik lebih dalam apa yang ada padanya. “aku akan pulang ke ****** ” sebuah daerah tempat ia tinggal dulu. Mengapa? secepat itu? dia pernah mengatakan belum akan pulang.

Kulihat sekelilingku tampak kosong. Aku dengar suara seorang perempuan. kuberanikan diri untuk melihat arah suara itu didalam sebuah kamar bertirai. Seorang wanita diam menatapku penuh tanya. Kusingkirkan langkahku, aku segera pergi dari tempat itu. Tempat dimana aku melihat dia telah membungkam seribu tanda tanya yang selalu mengiang dalam kepalaku.

Ketika ruang tamu kosong, kupergi tanpa berpamitan. Melangkah keluar dari pintu utama dan kukaku, dadaku sesak penuh. Tidak terbayangkan, apa lagi? aku melihat seorang anak laki laki. usianya mungkin baru 4 tahun. Pedih, perih, sakit. Perasaan ingin melepasnya, lalu siapa yang bisa aku salahkan sekarang? jika dia memang telang membohongiku, apa jadinya aku? apa aku harus menangis karena ketidakpastian hubungan ini? apa aku harus marah memaki-makinya? tapi mengapa sejak awal aku tidak berusaha tau tentang dia? mengapa aku mudah percaya kepada seorang laki laki dewasa? apa aku terlalu polos? atau bodoh. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiran, mereka bersuara keras dalam hati dan pikiranku. Aku pergi.

Aku terbangun dalam suasana gelap tanpa cahaya lampu, kutarik selimut dan dadaku masih sakit seperti terhimpit gelapnya hari yang masih pukul 2. Aku telah bangun dari mimpi, tapi aku belum bangun dari impianku. Apa aku harus menghapus impianku? apakah akan ada ikatan diantara kami? apakah dia punya impian yang sama denganku? atau dia tidak ingin terikat denganku, perilakunya berbeda, ketika dia menimpai aku dengan perkataanya, melemparku kesudut hal yang membuatku teringat akan kesalahanku. Apa seumur hidupku aku selalu salah dimatanya? aku tidak bisa berkata apapun. Tapi aku tidak bisa menahan luapan ini, mimpi ini begitu nyata, menghancurkan impianku untuk bisa terikat dalam permikahan. Aku ragu, apa jalan yang kutempuh ini salah, segala cara aku lakukan untuk menghentikan ketidak pedulianya, untuk mengikat matanya agar tidak ada alasan untuk berpaling dariku.

Ketika menulis ini, telingaku memanas, rasanya jantungku terhimpit dan tidah tahan akan keluar. Mataku terasa buram, hatiku terus memerangi. Pergi ! pergi ! tidak ada yang mengatakan tapi aku bisa mendengarnya dalam hatiku. Aku ingin pergi, semua harus pergi, rasa sakit ini harus pergi. Sungguh aku tidak berdaya.

Aku dan Rapuhnya Batinku

Jika aku adalah sebuah pohon, aku kering dan lapuk, kukurang air kukurang sinar matahari, tapi angin tak mampu melambaikan dahan dan rantingku yang sudah tak berdaya untuk ku topang, sedang banyak yang berharap ku akan hidup dan memberi mereka nafas.

Jika aku adalah air, aku ialah air laut. Berkadar garam tinggi hingga mampu membawa lukamu lebih sakit dari dugaanmu, meskipun kubiru, kuhijau, tapi keindahanku bukanlah warna asliku, aku pekat dan sangat mengacau saat lepas dari pantai.

Jika aku adalah sebuah batu, aku adalah cadas, tak terlalu terpakai hanya untuk menimbun yang sudah berlalu. Lalu tanah lainya menutupku, aku berada didasar terendah saat itu tapi yang terlihat bukanlah aku.

May 5 Tahun lalu

Kembang tenggelam menyerang, serbuk sari berkembang tak jadi. Apa kabar kau yang disana? aku adalah sababatmu, bukan kasihmu, aku hanya melihat bukan mengamati. Musim berganti, air tak lagi surut, mulai pasang, cintaku beralih kepada seseorang, dia berada sesak penuh dalam angan dan pandang. Tidak ada lagi sisa untuk yang lain.

Berjuanglah untuk asa yang telah kau bangun, kudengar kau terpuruk, aku tidak akan mengulur maaf, aku tidak berkata maaf, karena kau yang dulu berpaling. Aku tidak menyesal atas kepergianmu, memang aku yang menginginkan kau pergi dengan perempuanmu. Karena May 5 tahun lalu telah berlalu, karena may 5 tahun lalu tidak ada kesan yang tersisa. May tahun lalu bahkan benci yang tercipta aku tak lagi mengingatnya. Aku sudah lupa apa yang terjadi may 5 tahun lalu.