Mimpi

Aku tidak ingin bermimpi karena membawa penderitaan. Mimpi itu begitu nyata ketika aku datang kepadanya. Aku singgah disebuah rumah dengan pelataran yang cukup luas dan dihadapanku ada sebuah pohon rindang. Ku dipersilakan masuk olehnya, ingin kuurungkan tapi aku ingin menelisik lebih dalam apa yang ada padanya. “aku akan pulang ke ****** ” sebuah daerah tempat ia tinggal dulu. Mengapa? secepat itu? dia pernah mengatakan belum akan pulang.

Kulihat sekelilingku tampak kosong. Aku dengar suara seorang perempuan. kuberanikan diri untuk melihat arah suara itu didalam sebuah kamar bertirai. Seorang wanita diam menatapku penuh tanya. Kusingkirkan langkahku, aku segera pergi dari tempat itu. Tempat dimana aku melihat dia telah membungkam seribu tanda tanya yang selalu mengiang dalam kepalaku.

Ketika ruang tamu kosong, kupergi tanpa berpamitan. Melangkah keluar dari pintu utama dan kukaku, dadaku sesak penuh. Tidak terbayangkan, apa lagi? aku melihat seorang anak laki laki. usianya mungkin baru 4 tahun. Pedih, perih, sakit. Perasaan ingin melepasnya, lalu siapa yang bisa aku salahkan sekarang? jika dia memang telang membohongiku, apa jadinya aku? apa aku harus menangis karena ketidakpastian hubungan ini? apa aku harus marah memaki-makinya? tapi mengapa sejak awal aku tidak berusaha tau tentang dia? mengapa aku mudah percaya kepada seorang laki laki dewasa? apa aku terlalu polos? atau bodoh. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiran, mereka bersuara keras dalam hati dan pikiranku. Aku pergi.

Aku terbangun dalam suasana gelap tanpa cahaya lampu, kutarik selimut dan dadaku masih sakit seperti terhimpit gelapnya hari yang masih pukul 2. Aku telah bangun dari mimpi, tapi aku belum bangun dari impianku. Apa aku harus menghapus impianku? apakah akan ada ikatan diantara kami? apakah dia punya impian yang sama denganku? atau dia tidak ingin terikat denganku, perilakunya berbeda, ketika dia menimpai aku dengan perkataanya, melemparku kesudut hal yang membuatku teringat akan kesalahanku. Apa seumur hidupku aku selalu salah dimatanya? aku tidak bisa berkata apapun. Tapi aku tidak bisa menahan luapan ini, mimpi ini begitu nyata, menghancurkan impianku untuk bisa terikat dalam permikahan. Aku ragu, apa jalan yang kutempuh ini salah, segala cara aku lakukan untuk menghentikan ketidak pedulianya, untuk mengikat matanya agar tidak ada alasan untuk berpaling dariku.

Ketika menulis ini, telingaku memanas, rasanya jantungku terhimpit dan tidah tahan akan keluar. Mataku terasa buram, hatiku terus memerangi. Pergi ! pergi ! tidak ada yang mengatakan tapi aku bisa mendengarnya dalam hatiku. Aku ingin pergi, semua harus pergi, rasa sakit ini harus pergi. Sungguh aku tidak berdaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s