20 Agustus 2015

Hari ini, angin berhembus dan api membakar tubuhku. Setiap detiknya adalah racun bagiku. Malam malam gelap yang tak kunjung pudar. Malam malam sunyi tanpa keramaian. Yang kulihat hanya hantu bagi mereka, yang kurasa hanya buai saja. Air mata hanya kepalsuan baginya.

Hari yang harus kurayakan, 20 Agustus tahun lalu, hatiku diselimuti badai kegembiraan, tapi hari ini adalah racun yang mencekiku, berapa kuat aku menangis, tapi apa gunanya. Rasanya aku sudah mati hari ini. Aatu persatu tentangku mulai ia lupakan. Kediamanya memberiku sejuta tanya, tapi dia tetap selalu diam.

Aku ingat, daun gugur musim panas saat sekolah, aku tertawa bersama orang lain, aku bersenang senang melupakanya. Dia adalah ketakutan terbesarku, dimana namaku akan hilang saat dia tiba, dan namanya tidak dikenal karena kesatanganku, karena kami terus berswmbunyi, dan aku kira tak akan berlanjut hingga sekarang. Dia tetap menyembunyikan aku.

20 Agustus 2015, oh malangnya nasibmu. Kau dikekang oleh batinmu yang telah terluka, kau menusukan banyak pisau ketubuhku atas balasan hati yang kuremukan, dan kini kau kehilangan hatimu untuk kau beri padaku. Sakit, sakit disisa hidupku. Sakit, sakit , sakit tiap detik aku merasa hancur. Sakit sakit sakit, tiap hari aku merasa siksa dihari dekat kematianku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s