23 Agustus 2015

Menangis, menangislah aku. Sekeringnya air mataku. Hingga saat untuk menangis akan habis. Menangisi kebodohan, ketiadaan.

Salah, salahkan diriku sendiri, karena aku hidup, karena aku bersalah. Hidupku untuk bersalah, seumurku untuk selalu salah. Bahkan aku selalu tidak mengerti kesalahan.

Habiskan, kuhabiskan jiwaku untuk menangis dihidupku,atas apa yang kulakukan, yang kuperbuat. Kuhabiskan sisa hidupku untuk menangis. Menangis yang tak diketahui orang lain. Menangis didepan kekasaran, dibalik kesukaran.

Tuhan duniaku, kusembunyi atas ketiadaanku, diam dan tidak mereka tau, salahku, hidupku, airmata yang selalu datang, ketika kubangun dimalam hari. Aku selalu bertanya, kapan semua akan berakhir, seperti keringnya air mata ini, sampai nafas ini mulai sesak karena tangis ini.

Kecilku, oh masa kecilku. Aku ingin kembali saja kemasa itu, aku hanya mengenal cinta orang tuaku, mengenal cinta saudaraku. Aku hanya akan menangis karena sebuah permen. Bukan kehilangan cinta, kehilangan kepunyaan, kehilangan kasih, kehilangan sahabat, teman, dan semua dimasa itu akan selalu mendengar kesakitan saat kuberlari lalu terjatuh.

Oh nafasku, berhentilah jika kau merasa sulit, berhentilah jika waktu terlalu lama. Dan ingatkan aku pada Tuhan, hidup tidaklah kekal. Mencintai manusia begitu menyakitkan, tapi mencintai Tuhanku, aku akan dimuliakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s