Tuhan, kurindukanya

Ketika kurindu siapa yang akan aku datangi, jika aku rindu pada siapa aku akan memeluk. Pada siapa lagi akan aku sandarkan penatku ini, ketika peluhku kuusap, Tuhan, berapa lama aku hidup? Jika terlalu lama kurangilah umurku untuk menebus kesalahanku ini. Jika jiwaku tak bersatu, cukup Engkaulah. Ini adalah kiamat bagiku, aku merasa berat, untuk bertemu orang lain aku tidak sanggup. Mengapa aku begitu terluka, karena akan kehilanganya atau kesetiaanya. Tuhan, berilah ia segalanya, hati yang damai, damaikanlah dia, doaku untuknya. Aku tidak sanggup membuat dia bahagia, bahagia yang seperti apa? Tawa yang seperti apa? Yang kulihat hanya kegelapan. Aku tidak mau orang lain lagi. Aku sudah cukup jenuh Tuhan, memulai, mengulang, mengenal orang lain aku tidak bisa. Lalu apa yang bisa aku katakan pada hatiku? Jika dia jenuh dengan perilakuku, perilaku yang mana? Apa yang aku lakukan, aku tidak tau Tuhan, sungguh tidak tau.

Aku tidak punya kuasa apapun Tuhan, menapak kakiku kedepan pun aku masih ragu, seperti berjalan dihutan belantara, bagaimana esok akan terjadi, bagaimana esok kuhidup atau bagaimana jika aku mati. Tuhan, jika bersamanya aku ingin waktu berhenti sedikit lama. Mengapa engkau memberikan cinta yang seperti ini? Apa harus seperti ini pula Kau ambil tuhan. Mengapa begitu menyakitkan mencintai. Apakah Engkau akan mengambilnya, dulu aku meminta untuk memperbaiki aku dan dia, apakah memperburuk?apakah aku malah melukainya, sehingga Kau mengambilnya kembali.

Setiap menulis tentangnya Tuhan. Hatiku rasanya teriris. Merindukanya saja aku tidak mampu, apa aku begitu jahat, aku tidak akan menangis didepanya, itu janjiku. Aku bersikap keras, tapi bukan mauku.

Aku ingin mendapatkan kesempatan lagi. Tapi kesempatan apa? Tidak mungkin pisau yang selalu kuasah tidak melukaiku. Tapi Tuhan. Mengapa ini menyakitkan, untuk kehilangan perhatian, tatapan cinta, aku sadar dia sudah jenuh. Lalu sekarang pagi siang malam, aku akan sendiri, atau aku akan bisa kembali. Benar Tuhan? Aku tidak tau apa kuasamu. Perasaan tersiksa, kehidupanku, sosialku, kesenjanganku, semuanya menjadi satu. Begitu buruk, sampai aku selalu salah langkah.

Sudah lama aku berada dibalik punggungnya. Aku berfikir dia menyembunyikan aku dari orang orang. Cukup lama. Sehingga aku berfikir dia tidak menaruh harapan kepadaku, tidak ada rencana apapun. Teringat, ketika dia meyakinkan aku, dan menjudge suatu saat nanti aku akan kembali berpaling keorang lain. Apakah ini sebuah sinyal? Tidak ada keseriusanya sehingga memaksaku untuk pergi sampai suatu saat nanti. Tuhan mengapa begitu rumit ceritaku ini. Sudikah engkau menjelaskan Tuhan, jika ini benar benar memang rumit, apakah aku sanggup. Sedangkan cobaan ini begitu berat. Tidak hanya tentangnya. Begitu berat, sehingga memikirkanya, membayangkan semua masalah ini aku tidak sanggup. Mengapa usiaku ini begitu berat. Apakah aku memang mampu, Tuhan.

Tuhan, ingatkan aku tentang kematian. Entah nanti, esok, lusa, minggu depan, tahun depan. Agar aku selalu siap dan bisa selamat, agar tidak Dunia saja yang aku fikirkan. Semua milikmu Tuhan, jika kulahir tanpa sehelai benang, maka ambilah semua yang Kau titipkan padaku, saat matiku. Seperti janjimu kepada insan Bersyahadat. Ingatkan Kumohon Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s