Iya Begitu

Kuletakan dengan keras tas besar di kasur, kubaringkan tubuhku diatas kasur ukuran besar, terlalu besar mungkin jika aku berbaring aku akan selalu kesepian.

Hawa panas menyergap di wajahku. Leherku lalu turun. Mataku berkunang, aku melemah. Aku terjatuh dipagi kemarin. Dan hari ini aku mulai melemah. Lagi. Hidungku tertusuk, sakit. Tenggorokanku tercekik, sakit. Dadaku terhimpit, sakit. Kuhirup dalam dalam udara masuk kerongga dadaku, dan kedua kuhirup dengan mulut dalam dalam, udara masuk menggerak pula diafragma. Kuhembuskan perlahan. Keningku tertimpa tembok. Kutengok tembok ruang masi tegap kokoh. Tuhan yang berkuasa.

Aku berlari direrumputan hijau, melompat pada kubangan tanah. Memanjat tinggi tower. Tapi aku masi berbaring.

Perutku berbunyi ” aku butuh kau isi” tapi otakku menolak ” jika kau hentikan, semua akan selesai” dunia ini akan selesai. Hidup yg akan selesai. Kekhawatiranku akan selesai, tidak ada kesepian dalam keramaian. Tidak ada jahat dalam kebaikan. Manusia itu jahat, bukan dunia. Bukan dunia yang menenggelamkanmu tapi manusia yang menguburmu.  Tidak ada ketidakpedulian dalam kepedulian. Tidak ada pewaris yang mewarisi jejelekan dan hinaan. Bukankah jika aku tak ada tidak ada pewaris wataku.

Maaf Tuhan, begitu rumit aku berfikir. Begitu buruk aku memulainya. Jika tali yang kukaitkan ini goyah Tuhan, aku akan jadi baju yang kehilangan kancingnya. Ya Tuhan, apa harus ada pernikahan? Apakah wanita dan pria harus menikah? Dan apakah perlu untuk saling menyukai dan mencintai. Bukankah lebih indah mencintaiMu? Jika aku takut Engkau berpaling dariku, Engkau menyuruhku untuk lebih dekat. Jika manusia takut untuk kehilangan yang dicintainya, mengapa aku diusir? Benarkah manusia harus saling menyukai?

Aku tidak meminta mati Ya Tuhanku meskipun aku tau aku akan mati yang tidak tau kapan, aku hanya bercerita kesedihanku. Aku akan hidup sampai matiku, meskipun hanya tinggal sisa dari memori tentangku. Aku hanya suka bergeming, bergeming yang tidak disukai orang lain. Lalu aku bercerita. KepadaMu, karena Engkau paling tau bagaimana yang terjadi sedangkan orang lain tidak tau. Aku baik baik saja dalam tangisku Tuhan. Aku hanya ingin menuliskan kegelisahanku. Menuliskan air mata yang tidak akan berhenti. Karena perasaan ini. Karena aku hanya ingin menangis. 

Ya Tuhan adakah yang akan membalut tubuhku dengan pelukan?bukan yang menyuruhku untuk mendekat kekobaran api. Adakah yang akan menyuapiku denyan tanganya? Bukan hanya menyuruhku makan. Adakah yang melindungiku dari pukulan orang lain ketika aku bersalah, meskipun dia akan menghukumku dalam rumahnya? Atau aku akan di pukul dikhalayak ramai dan dimanja dalam rumahnya? 

Advertisements