Aku Menulis

Daun bergoyang goyang  didepan sana, aku dapat melihatnya. Dibalik kaca itu aku bisa melihat angin berhembus. Tapi bukan itu yang aku amati, beberapa hari ini aku sering merenung. Suara didalam telingaku masih ada, nyanyian, lagu sedih yang masih aku putar, lagu patah hati yang masih berdengung ditelinga, sesekali kuucapkan baris liriknya.

Aku kembali mengingat baris pesan yang kau tulis, tiba tiba detak jantungku meninggi, nafasku terengah, kuhembus dalam dalam agar aku merasa lega, mataku terasa panas, tidak aku pungkiri aku sangat sedih. Begitu berulang, sejengkal cerita yang kauceritakan, tidak kupungkiri. Rasanya sakit, tapi tidak berdarah. Usahamu, usahanya, bagaimana caramu mencari sudut pandang dari ceritamu, benar benar seolah masih kau rasakan. Kamu dan dia masih kau artikan sebagai sebuah hal istimewa, begitukah? aku merasa kecil, who am I? apakah posisiku sepenting itu? apakah aku akan merasakan hal itu? begitu aku bertanya pada hatiku. Yang ada aku hanya merasa sesak. Ini sulit, tapi inilah kenyataan. begitu aku ingat pesanmu, aku seolah berada diantara kalian. Aku merasa tidak begitu denganku, I feel alone , hanya seperti melihat kenyataan yang begitu rumit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s