Dunia dan Aku

Aku kurang jauh membuka mata dunia
Sulit memang memahami orang yang pernah mengalami trauma
Sulit sekali menyeka patah hati oleh sang trauma
Namun bukan berarti aku sulit meski duniaku sulit
Aku akan hiatus sejenak
Aku terus dibayangi rasa kehilangan
Aku dibayangi dunia gelap tanpa celah
Aku masih saja khawatir
Aku trauma, melihat ruang ruang tidur yang kosong saat kubangun
Mereka pergi saling menghianati

Advertisements

Mantan

Singkat, tapi panjang jika dibicarakan. Dia bisa dikatakan penyakit jika kumau. Bukan dari pihaku tapi kamu, masih saja mengotak –  atik tentangnya, tentu saja kutau. Aku lelah diam, aku lelah. Facebook, whatsapp, aku sudahi dan menyudahi untuk tak kau jangkau. Tapi sia – sia bukan? jika hatimu saja masih ingin membukanya. Bohong jika tidak kau lakukan. Sebenarnya apa maksudnya? jika kulengah, kau tengok berandanya, jika kau rindu jangan kau rindu, sebab itu penyakit yang akan membunuh kita. Membunnuhku dan menjadi malapetaka.

Bis dan 100 rupiah

Tiba tiba bapak mengunjungiku untuk tau kabarku, tapi tidak sekalipun kutanyakan arti yang sebenarnya, lalu ketika hendak pulang, bapak menceritakan kepada seseorang bahwa uang yang ia miliki hanya dua ribuan. lalu ketika hendak berpamitan dihalte, aku menyelipkan uang seratus ribu ditasku ke dompet bapak.

bapak yang pergi atau pulang aku ikuti, menaiki bis yang sama. Lalu aku diturunkan kesebuah jalan tikungan dan aku tidak tau bapak pergi kemana, aku tersesat. Aku melewati perumahan dengan kali dikamarnya, pasir – pasir yang sedang di tumpuk dan kulewati ambles, aku mencari jalan pulang.

Aku tau aku tersesat sangat jauh dari rumah, ketika kemarin aku bermimpi hal hitam. ketika aku harus tidur aku sangat ketakutan pada kematian, membuat telapak kakiku dingin dan anyep berhari-hari, pertanda buruk yang harus aku terima. Mimpi – Mimpi yang sangat menyeramkan, mayit hitam dan kulit melepuh, dia tetanggaku, serta orang-orang yang memandikanya terkena kulit melepuhnya, aku sangat takut.

Lalu pada sore, tepatnya saat magrib, semua ayam jantan berkokok, dan ibu memanggilku, menurutnya akan ada malapetaka besar jatuh keseorang gadis yang belum menikah, dan tubuhku bergetar. Selepas ashar tubuhku lunglai, badanku melemah selama berhari-hari. Aku menelan vitamin berpil-pil setiap saat. Aku takut ketika pergi kekamar mandi aku seperti diikuti bayangan hitam yang seperti mau menenggelamkanku ketanah dan aku sebelumnya terjatuh pingsan tidak sadar, isi perutku tumpah. Aku menangis ternyata aku baru sadar, tidak ada yang bisa menemaniku, aku benar benar ditempat yang sangat asing, kecilku aku bisa memeluk bapak, memeluk mamak. Tapi aku  yang tiada. Sesal tiada henti, karena Tuhan selalu mencintaiku yang rendah ini, aku semakin tidak bisa memaafkan diriku yang tidak pernah bersyukur.

tapi siapa yang akan pulang terlebih dulu? aku atau bapak?

 

Terhimpit dan teramat sakit
Pagi yang sangat sulit
pagi yang ingin aku tumpahkan
segala rasa sakit yang menghimpit dada ini

mimpi memanglah bunga tidur
tapi bunga itu menusuk kedalam dada, kerongga udara
sulit untuk aku bernafas sempurna

Betapa tidak?
Aku benci kehilangan
Aku Benci menyalahkan
Aku benci
Kini nyataku tak jauh beda dari mimmpiku
Begitu nyata aku meraung tidak menerima
Begitu nyata aku kesakitan dalam dada ini
Namun semua tetap berlanjut
Dan tetap harus kuterima

-bapak-

Tentang sebuah cerita

Aku berayun ayun diatas angin, bukan bukan, aku berada diatas awan megisahkan hariku penuh dengan awan putih dan warna biru yang sedang aku pandangi hingga siang ini. taukah? aku tidak berada dimanapun, aku berada didalam ruang sempit sesak dengan sedikit udara tersisa. terhimpit penuh sesak.

Apalagi sesaknya hingga keulu hati, aku ragu aku bisa. Aku dan cerita ku. Aku dan rasa sesal yang kian hari kian membunuhku. Tidakkah bisa hanya satu hal yang berada dalam benak, hanya banyak yang aku dapat. Tidakah bisa hanya satu jika banyak membuatku sangat terpuruk.

Aku tidak berada dimanapun ketika aku disini. Aku tidak membayangkan siapapun yang aku pandang didepan mataku, tidak ada. Namun bisuku ternyata hanya kesalahan. Hanya sebuah laluan, lalu aku kembali meratapi hari ini yang begitu sangat penuh kesalahpahaman.

Aku teramat terhimpit, entah apa yang sedang terjadi, namun begitu sangat memilukan. Aku sungguh tidak mengingat ingat masa lalu, sekarang yang aku hadapi sekarang yang aku jalani. Maaf, aku ragu bersamamu semakin menyakitimu.

Arti Hujan

Langit memberi putih yang nyata
Biru, putih tidak ternoda
Langit memberi hitam yang menakutkan
Bukan amarah, tapi kehidupan
Rumput hijau yang tumbuh menghijau
Pohon yang terus menumbuhkan ranting dahan baru
Bunga bermekaran
Buah ranum untuk dipetik
biji yang menjadi tunas
Dan Kehidupan

Dari arti hujan aku berlindung dibawahnya
Aku mulai kebasahan
Ceria atau sakit
Namun hujan tetap sama sepanjang masa
Kesetiaanya untuk tetap membasahi bumi ini
Langit tidak meminta daun yang dia hijaukan
langit tidak meminta buah segar yang kau petikan
Ataupun bunga untuk kau tabur ke penghujung hujan
Arti hujan , memberi
Tidak Meminta
Cinta hanya tau memberi tanpa memaksa
Cinta hanya tau merindu bukan meminta dirindu
Tidak meminta

Tiada Kau Tau

Kenapa kalian tidak tulus, kenapa kalian membuatku meratapi nasibku, kenapa? 

Atau aku harus berfikir tidak pernah dilahirkan,agar aku tidak pernah bertanya siapa diriku. Jalan apa yang aku lalui ini. Mungkin sudah suratan hidupku, nasibku ,didunia ini. Aku kehilangan umur pendeku dengan bersedih dan tidak pernah berhenti menyaksikan kegelapan hidupku. Ataukah aku harus menangis di sisa sisa usiaku nanti. Atau aku harus berfikir menjadi picik dan jahat seperti kalian, agar aku tidak merasa hal ini? Semua ini? Aku hanya menulis, sehingga tiada sisa sisa pena yang kujejakan, sehingga tiada secarik kertas yang terselip untuk kau baca, tiada. Kutulis dan kuterbitkan. Sehingga mata dan telingamu tiada menyaksikan betapa sulitnya jalan yang kutempuh, kututup rapat pintu rumah dan tiada kau tau diluaran sana aku melawan tajamnya kehidupan. Tiada kau tau. Sehingga tiada kau tau. Aku membalut luka dan menjahit hujaman di dadaku ini menembus depan lalu belakang. Sehingga kutetap baik baik saja. Biarkan aku yang merasakan, aku tak mampu berkata kata.

Kadang kulupa, kutakut hal yang belum berjalan, kudahului kehendakNya dan kuberdosa. Kutakut dan membuat bayangku bercanda dengan anganku. Seolah ku Tuhan yang mengetahui segalanya, didepan sana kumelihat sebuah benda besar yang berbicara, lalu Tuhan membawaku kepadanya, itu hanyalah cerminanku. Aku adalah marabahaya, aku yang membuatnya. Aku takut hal terjadi lalu kuberandai itu terjadi hingga terjadilah.