Tentang sebuah cerita

Aku berayun ayun diatas angin, bukan bukan, aku berada diatas awan megisahkan hariku penuh dengan awan putih dan warna biru yang sedang aku pandangi hingga siang ini. taukah? aku tidak berada dimanapun, aku berada didalam ruang sempit sesak dengan sedikit udara tersisa. terhimpit penuh sesak.

Apalagi sesaknya hingga keulu hati, aku ragu aku bisa. Aku dan cerita ku. Aku dan rasa sesal yang kian hari kian membunuhku. Tidakkah bisa hanya satu hal yang berada dalam benak, hanya banyak yang aku dapat. Tidakah bisa hanya satu jika banyak membuatku sangat terpuruk.

Aku tidak berada dimanapun ketika aku disini. Aku tidak membayangkan siapapun yang aku pandang didepan mataku, tidak ada. Namun bisuku ternyata hanya kesalahan. Hanya sebuah laluan, lalu aku kembali meratapi hari ini yang begitu sangat penuh kesalahpahaman.

Aku teramat terhimpit, entah apa yang sedang terjadi, namun begitu sangat memilukan. Aku sungguh tidak mengingat ingat masa lalu, sekarang yang aku hadapi sekarang yang aku jalani. Maaf, aku ragu bersamamu semakin menyakitimu.

Advertisements

Arti Hujan

Langit memberi putih yang nyata
Biru, putih tidak ternoda
Langit memberi hitam yang menakutkan
Bukan amarah, tapi kehidupan
Rumput hijau yang tumbuh menghijau
Pohon yang terus menumbuhkan ranting dahan baru
Bunga bermekaran
Buah ranum untuk dipetik
biji yang menjadi tunas
Dan Kehidupan

Dari arti hujan aku berlindung dibawahnya
Aku mulai kebasahan
Ceria atau sakit
Namun hujan tetap sama sepanjang masa
Kesetiaanya untuk tetap membasahi bumi ini
Langit tidak meminta daun yang dia hijaukan
langit tidak meminta buah segar yang kau petikan
Ataupun bunga untuk kau tabur ke penghujung hujan
Arti hujan , memberi
Tidak Meminta
Cinta hanya tau memberi tanpa memaksa
Cinta hanya tau merindu bukan meminta dirindu
Tidak meminta

Tiada Kau Tau

Kenapa kalian tidak tulus, kenapa kalian membuatku meratapi nasibku, kenapa? 

Atau aku harus berfikir tidak pernah dilahirkan,agar aku tidak pernah bertanya siapa diriku. Jalan apa yang aku lalui ini. Mungkin sudah suratan hidupku, nasibku ,didunia ini. Aku kehilangan umur pendeku dengan bersedih dan tidak pernah berhenti menyaksikan kegelapan hidupku. Ataukah aku harus menangis di sisa sisa usiaku nanti. Atau aku harus berfikir menjadi picik dan jahat seperti kalian, agar aku tidak merasa hal ini? Semua ini? Aku hanya menulis, sehingga tiada sisa sisa pena yang kujejakan, sehingga tiada secarik kertas yang terselip untuk kau baca, tiada. Kutulis dan kuterbitkan. Sehingga mata dan telingamu tiada menyaksikan betapa sulitnya jalan yang kutempuh, kututup rapat pintu rumah dan tiada kau tau diluaran sana aku melawan tajamnya kehidupan. Tiada kau tau. Sehingga tiada kau tau. Aku membalut luka dan menjahit hujaman di dadaku ini menembus depan lalu belakang. Sehingga kutetap baik baik saja. Biarkan aku yang merasakan, aku tak mampu berkata kata.

Kadang kulupa, kutakut hal yang belum berjalan, kudahului kehendakNya dan kuberdosa. Kutakut dan membuat bayangku bercanda dengan anganku. Seolah ku Tuhan yang mengetahui segalanya, didepan sana kumelihat sebuah benda besar yang berbicara, lalu Tuhan membawaku kepadanya, itu hanyalah cerminanku. Aku adalah marabahaya, aku yang membuatnya. Aku takut hal terjadi lalu kuberandai itu terjadi hingga terjadilah. 

Berayun

Kutidur larut, pagi membentang kutarik awan dan tertidur kembali. Berlanjut dari hari kehari

Aku duduk berdua, saling menatap dan menggenggam

Kami berayun kasih, memanjakan pesona dan gairah hati. 

Kuulang senyuman hingga tiada jemu.

Berpatah kata, hati yang berbunga cuaca yang sejuk menambah tenang jiwa

Kabut kabut melewati senja, melewati lambaian dan tatapan nanar

Tidak ingin usai, tidak ingin terjadi

Kuharus terbangun dan menerima keadilan dunia, yang mana duri pelindung menancap ketika sesak tiba

Yang ada mimpi pagi yang indah

Andai langit dan laut itu sama

Aku bisa berenang dan terbang seperti ayunan dalam perahu

Jika hari ini harapan hanya bisa kugadai dalam mimpi, aku ingin berwujud dalam bumi

Bersamanya bahagia bukan andaian mimpi

Jika kemarin kutidak ingin terbangun, jika kubenci membuka kelana ,jika kubenci suara remeh 

Aku akan memulai hari dengan melupa tentang kesedihann yang lalu.

Ingkar

Orang yang pergi adalah orang yang ingkar janji. Kau pernah memerintahku pergi karena aku berkata janji tidak akan pergi tanpa kau memintaku. Tapi mengapa memintaku mengingkari janjiku sendiri. Aku tidak takut meninggalkan siapapun, karena aku pasti akan kembali kepada Tuhanku, Allahku. 

Jika aku tidak melakukan kewajibanku aku berarti meninggalkan Tuhanku. Jika kau bertanya. Aku mengingkari janjiku? Aku akan menjawab aku akan kembali keTuhanku, apa kamu seyakin itu? Itu pasti, karena itulah beda dirimu dengan Tuhanku. Ketika aku hancur, Aku meminta kepada Tuhanku, datangnya dirimupun karena Tuhanku dan perginya dirimu karena Tuhanku. Aku mencintai Tuhanku, jika aku lebih mencintaimu, maka Tuhanku akan murka dan mengambil yang membuatku menduakanya. Tapi Tuhanku hanya berpesan jagalah dirimu selagi aku bisa, sekuat tenagaku. Karena jika kau lepas karena dirimu sendiri, Tuhanku yang akan menentukan nasibku, jika kau lepas karena aku, Tuhan akan menghukumku, aku takut dihukum Tuhanku karena menyakitimu. Aku takut akan diberikan hukuman atas ketidaksungguhanku bila engkau sampai pergi.

Tuhanku bisa menilai, aku bukan hamba yang sangat taat, tapi aku tidak akan menduakan cintaku terhadapnya. Tapi maaf aku menduakanmu karena yang pertama adalah Tuhanku, sehingga aku tidak punya rasa takut. Jikapun ada, Tuhanku akan menyembuhkan lukaku. Banyak luka yang disembuhkan olehNya. Aku harap kau mencintai Tuhanku Tuhanmu dengan lebih dari kau mencintaiku. Karena jika aku pergi percayalah itu adalah cinta Tuhanku dan Tuhanku ingin aku kembali kepadanya. Tidak ada alasan menduakanmu dengan manusia lain. 

Bukan alasanku berusaha dan bertahan karena kau menerimaku. Tapi aku mencintaimu karena Tuhanku. Aku berusaha dan bertahan karena Tuhanku. Aku berkeyakinan untuk mendapatkan hal yang indah bukan datang dari manusianya, tapi karena Tuhan memberikan keindahan setelah hal hal yang sulit sudah terlampaui.

Aku mencintaimu karena Tuhanku. Aku tidak ingin jadi ingkar. Karena aku mencintai, maka aku akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan orang yang mencintai.

Dinding Kaca

Dinding kaca yang kutatap sembari lalu, terus kutatap dan kutemukan beberapa daun yang membuatku tertuju. Tidak ada yang menarik pada daun itu. Aku beranjak kebalkon, duduk dikursi goyang dan kututup rapat mata kantuk ini, aku benar benar tidak tidur. Aku ingin memejamkan mata, yang aku lihat hanya dirimu. Tulisan tulisan yang membayang bayang. Aku tidak tau suasana hatiku seperti apa, aku tidak merasakan apapun, sakit? Tidak. Sedikit iya bila diingat tapi aku lebih merasa hambar. Aku merasa menapakan kaki tapi terlalu ringan untuk aku pijakan.

Aku hanya menghela hela nafas panjang, terngiang lalu kupejamkan mata. Hambar, aku merasa hambar, tidak ada perasaan senang dan sedih. Pagi ini, aku benar benar tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan, aku merasa hampa dan sepi. Ada hal yang ingin kukatakan tapi tidak ada kalimat, aku hanya sampai pada batin yang terus berkata, aku kenapa?