Bis dan 100 rupiah

Tiba tiba bapak mengunjungiku untuk tau kabarku, tapi tidak sekalipun kutanyakan arti yang sebenarnya, lalu ketika hendak pulang, bapak menceritakan kepada seseorang bahwa uang yang ia miliki hanya dua ribuan. lalu ketika hendak berpamitan dihalte, aku menyelipkan uang seratus ribu ditasku ke dompet bapak.

bapak yang pergi atau pulang aku ikuti, menaiki bis yang sama. Lalu aku diturunkan kesebuah jalan tikungan dan aku tidak tau bapak pergi kemana, aku tersesat. Aku melewati perumahan dengan kali dikamarnya, pasir – pasir yang sedang di tumpuk dan kulewati ambles, aku mencari jalan pulang.

Aku tau aku tersesat sangat jauh dari rumah, ketika kemarin aku bermimpi hal hitam. ketika aku harus tidur aku sangat ketakutan pada kematian, membuat telapak kakiku dingin dan anyep berhari-hari, pertanda buruk yang harus aku terima. Mimpi – Mimpi yang sangat menyeramkan, mayit hitam dan kulit melepuh, dia tetanggaku, serta orang-orang yang memandikanya terkena kulit melepuhnya, aku sangat takut.

Lalu pada sore, tepatnya saat magrib, semua ayam jantan berkokok, dan ibu memanggilku, menurutnya akan ada malapetaka besar jatuh keseorang gadis yang belum menikah, dan tubuhku bergetar. Selepas ashar tubuhku lunglai, badanku melemah selama berhari-hari. Aku menelan vitamin berpil-pil setiap saat. Aku takut ketika pergi kekamar mandi aku seperti diikuti bayangan hitam yang seperti mau menenggelamkanku ketanah dan aku sebelumnya terjatuh pingsan tidak sadar, isi perutku tumpah. Aku menangis ternyata aku baru sadar, tidak ada yang bisa menemaniku, aku benar benar ditempat yang sangat asing, kecilku aku bisa memeluk bapak, memeluk mamak. Tapi aku  yang tiada. Sesal tiada henti, karena Tuhan selalu mencintaiku yang rendah ini, aku semakin tidak bisa memaafkan diriku yang tidak pernah bersyukur.

tapi siapa yang akan pulang terlebih dulu? aku atau bapak?

 

Advertisements

Terhimpit dan teramat sakit
Pagi yang sangat sulit
pagi yang ingin aku tumpahkan
segala rasa sakit yang menghimpit dada ini

mimpi memanglah bunga tidur
tapi bunga itu menusuk kedalam dada, kerongga udara
sulit untuk aku bernafas sempurna

Betapa tidak?
Aku benci kehilangan
Aku Benci menyalahkan
Aku benci
Kini nyataku tak jauh beda dari mimmpiku
Begitu nyata aku meraung tidak menerima
Begitu nyata aku kesakitan dalam dada ini
Namun semua tetap berlanjut
Dan tetap harus kuterima

-bapak-

Tentang sebuah cerita

Aku berayun ayun diatas angin, bukan bukan, aku berada diatas awan megisahkan hariku penuh dengan awan putih dan warna biru yang sedang aku pandangi hingga siang ini. taukah? aku tidak berada dimanapun, aku berada didalam ruang sempit sesak dengan sedikit udara tersisa. terhimpit penuh sesak.

Apalagi sesaknya hingga keulu hati, aku ragu aku bisa. Aku dan cerita ku. Aku dan rasa sesal yang kian hari kian membunuhku. Tidakkah bisa hanya satu hal yang berada dalam benak, hanya banyak yang aku dapat. Tidakah bisa hanya satu jika banyak membuatku sangat terpuruk.

Aku tidak berada dimanapun ketika aku disini. Aku tidak membayangkan siapapun yang aku pandang didepan mataku, tidak ada. Namun bisuku ternyata hanya kesalahan. Hanya sebuah laluan, lalu aku kembali meratapi hari ini yang begitu sangat penuh kesalahpahaman.

Aku teramat terhimpit, entah apa yang sedang terjadi, namun begitu sangat memilukan. Aku sungguh tidak mengingat ingat masa lalu, sekarang yang aku hadapi sekarang yang aku jalani. Maaf, aku ragu bersamamu semakin menyakitimu.

BETAPA

Betapa indahnya membayangkan mereka beradu kasih
Betapa indahnya membayangkan memori berkesan tentang mereka
Tapi aku merasa sedih
Betapa Indah kasihnya kepada dia
Tapi aku merasa sedih
Betapa indah dan pilu perjuangan mereka
Tapi aku merasa sedih

Betapa indahnya jalinan kasihnya
Betapa indah kisah cintanya

Memori yang terus berputar dikepala
Langkah yang terus mundur
Membuatku Hancur
Mengapa aku merasa seperti ini?

Mengapa bukan aku yang merasakan hal itu?
mengapa hanya aku yang berusaha dalam kisahku?
Tidak pernah aku dikasihi,dicintai seperti itu
jika aku sekarang ada, apakah hal yang sama? apakah masih ada rasa yang seperti itu
Apa aku akan begitu indah?
Nafasku terus mencekik leher
Benar benar sakit

Aku Menulis

Daun bergoyang goyang  didepan sana, aku dapat melihatnya. Dibalik kaca itu aku bisa melihat angin berhembus. Tapi bukan itu yang aku amati, beberapa hari ini aku sering merenung. Suara didalam telingaku masih ada, nyanyian, lagu sedih yang masih aku putar, lagu patah hati yang masih berdengung ditelinga, sesekali kuucapkan baris liriknya.

Aku kembali mengingat baris pesan yang kau tulis, tiba tiba detak jantungku meninggi, nafasku terengah, kuhembus dalam dalam agar aku merasa lega, mataku terasa panas, tidak aku pungkiri aku sangat sedih. Begitu berulang, sejengkal cerita yang kauceritakan, tidak kupungkiri. Rasanya sakit, tapi tidak berdarah. Usahamu, usahanya, bagaimana caramu mencari sudut pandang dari ceritamu, benar benar seolah masih kau rasakan. Kamu dan dia masih kau artikan sebagai sebuah hal istimewa, begitukah? aku merasa kecil, who am I? apakah posisiku sepenting itu? apakah aku akan merasakan hal itu? begitu aku bertanya pada hatiku. Yang ada aku hanya merasa sesak. Ini sulit, tapi inilah kenyataan. begitu aku ingat pesanmu, aku seolah berada diantara kalian. Aku merasa tidak begitu denganku, I feel alone , hanya seperti melihat kenyataan yang begitu rumit.

KEEP ME INSIDE

Keep your body in the middle of the night
Dont keep me inside

You look me
You right
You sing about bluesky
And I go down, than you smile

You sing about the tree
But can be my broken
Ant say, “You never know the mistery”

Than ever, small and so far
not a dissapointed, but my blood so fast
My head and my hand
My Shoulder fall apart

SESAK

Hari ini kusesak
Pagi tadi, malam tadi kusesak

Konsekuensi yang aku takuti, terjadi
Aku mencoba Mengerat dalam dekapan yang dingin
Dekapan dingin yang sudah membeku,karenaku

semakin kutakut, semakin sesak
semakin kusesak, aku membuncahkan
Aku membuncah dan tangan ini menyayat hatiku sendiri
Ketakutan dan rasa kehilangan berangsur beberapa masa
karena sesak ku sendiri

Kuberfikir jauh batas angan, membuat pola, memaki sendiri
Aku dan fikiranku yang sesak
Kutahan bertahun tahun untuk melawan emosional
Tapi kandas di malam tadi
dan aku membuat kesalahan besar lagi
yang tidak termaafkan
meski tiada niat dalam nurani

Daun yang gugur kebumi tak akan bisa lagi kembali pada rantingnya
Daun itu akan membusuk, demi menyuburkan tanah akar pohon
Meskipun Pohon tak mengakui daun itu lagi sebagai bagian dari dirinya
tapi Tuhan lebih tau mana yang sebenarnya
Tuhan kuatkan aku dalam menjalani konsekuensi ini