BETAPA

Betapa indahnya membayangkan mereka beradu kasih
Betapa indahnya membayangkan memori berkesan tentang mereka
Tapi aku merasa sedih
Betapa Indah kasihnya kepada dia
Tapi aku merasa sedih
Betapa indah dan pilu perjuangan mereka
Tapi aku merasa sedih

Betapa indahnya jalinan kasihnya
Betapa indah kisah cintanya

Memori yang terus berputar dikepala
Langkah yang terus mundur
Membuatku Hancur
Mengapa aku merasa seperti ini?

Mengapa bukan aku yang merasakan hal itu?
mengapa hanya aku yang berusaha dalam kisahku?
Tidak pernah aku dikasihi,dicintai seperti itu
jika aku sekarang ada, apakah hal yang sama? apakah masih ada rasa yang seperti itu
Apa aku akan begitu indah?
Nafasku terus mencekik leher
Benar benar sakit

Advertisements

JANGAN COBA

Siul kusiulkan dalam malam, tiada burung beterbangan
Andai indah yang tercipta tak runtuh
Andai Kasih yang tercipta bukan kepalsuan
Bukan sesal
Aku hanya tidak ingin mencoba

Sekarang aku berdiri diatas runtuhnya
Sekarang aku menatap jauh Ragu kepalsuan
Hanya aku sesal, menyesal pernah datang

Tumpuanku telah lenyap, begitu angin berkata
Aku sendiri terombang ambing
Pernah terombang ambing
Jangan coba,
Datang dihadapanku, atau kumusnahkan
Datang Dibalik laluan yang kulewati, atau kuhancurkan dirimu

Jangan coba
Menghindarlah, dari pandang mata
Karena bukan kutak bisa, tapi umpatanku tidak akan pernah berhenti
Sebelum kau berlalu

Kau busukan sendiri sajianku
Kau Rendahkan sendiri martabatmu
Kau patahkan sendiri kakimu
Kau Hunuskan sendiri dadamu
Kau Bakar sendiri tubuhmu

Jangan mencoba menyalahkanku

Jawaban

Kesibukan membawamu terjebak dalam kebingungan, kehampaan, bukan hanya yang menunggumu, tapi dirimu yang mulai meniadakan seseorang dalam hidupmu.

jangan sekali kau ikat tanpa ikatan, dia akan sadar lalu merasakan kesedihan. Setahun dua tahun berlalu, kau masih saja sibuk dengan dirimu, tidak yang lalu yang belum kukatakan, kau menggantung kasih dan sayangku.

Hingga aku mendapatimu dengan seseorang, hancur dan lidahku seakan kelu, aku berputar dan menangis. Kuparkirkan sepedaku dan menunggumu dipersimpangan, benar saja itu adalah kamu, dengan seseorang. Melaju kencang hingga aku tak mampu mengejar lajumu, kukayuh asa. Aku datang padamu dengan keputusasaan. Kutanyai, siapa dirimu sebenarnya? apa maumu terhadapku? berlalu, rasa kecewa berlalu, benar saja aku memaaf dan melupakan. Tapi tak satupun aku tau mana yang benar mana kebenaran. Mana bukti nyata nya, aku masih meragukan.

Dua tahun berlalu, aku sulit mengungkap kepastian dalam dirimu, pesan tidak kau balas. Pesan yang menurutku sangat kunanti. Pesan kebenaran, kepastian , kesanggupan atas 2 tahun berjalan, mungkin ku akan menua. Menua menanti jawabmu. Tapi aku akan mundur jika kau tak memberiku jawaban. Jika benar kau tidak menjawab kebenaran, aku tidak akan pernah datang kepadamu lagi.

6 Juli 2015

Jika dulu Tuhan membukakan mataku dan hal pertama yang kulihat adalah hal yang mustahil, namun perasaan yang melekat ini sangat ingin kuperjuangkan, tidak peduli datangnya seseorang yang menentang. Tapi, akhirnya kumulai ragu dan mundur.

Ketika kubuka mata dan hal yang pertama kulihat sangat ingin kuperjuangkan sudah kudapati, tapi sekarang kumulai ragu kembali, sudah jalan selama ini, tapi dia yang kupercaya mulai pudar cintanya, aku sangat menginginkannya, jauh dari apa yang dia tau, aku berjanji akan selalu bersamanya, meskipun amarah meledak aku tetap akan terus mengatakan aku sayang padamu, seberat apa cobaan dalam duniaku aku akan selalu mengingat kewajibanku terhadapmu, tapi bukan cobaan untuk kehilangan cinta dan perhatianmu.

Aku bukan wanita yang menarik, tapi aku berusaha ingin selalu memanjakanmu, tapi jika pagar yang kubangun begitu tinggi sehingga menutupimu, aku tidak sadar akan hal itu. tapi jika waktumu selama 24 jam itu kau singkirkan aku, aku sangat kecewa terhadap sikapmu, tapi maaf pun tidak untukku karena kau merasa itu bukan kesalahanmu.

Aku sudah berusaha untuk selalu menjaga perasaanmu, kuluangkan kusingkirkan keegoisanku untuk meminta maaf, karena bagaimanapun aku tidak berhak marah atas dirimu, malam berganti siang, semakin lama cintamu mungkin memudar, ketika kuragu kau tidak membuatku merasa nyaman, tapi membiarkan aku berceloteh dengan pemahamanku sendiri, inikah kekhawatiran dulu? dimana hubungan ini semakin sulit dan kau semakin jauh, aku dekat denganmu, tapi mengapa aku ragu dengan cintamu? apa kamu masih mencintaiku?

INI

Keraguan yang selalu singgah, bayang bayang semu yang merusak perhatian, seketika pula akan sirna ketika peluhku kauusap dengan nada suaramu, ketika kupeluk begitu damai. bisakah kukatakan aku sedang bersedih? tidak. aku sangat mendambakan hal ini, bersamamu, tertawa, ejekan ejekan itu membuatku selalu merindukanmu.

ketika malam kugelisah, ku buncah. ketika tidur tak juga terpejam, kubayangkan dirimu selalu memeluk sepanjang malam, meski kutau saat fajar kau tak pernah ada. Tapi semalam memimpikanmu membuat hariku semakin merajuk, aku tak bisa jauh darimu 🙂

Mimpi ke-2

Semalam tepatnya, setelah memimpikan apa yang ia sembunyikan bahwa ia sudah menikah (masih menjadi pertanyaan) atau lebih tepatnya tinggal serumah dengan seorang wanita dan juga anak laki laki. Hari berikutnya aku memimpikanya kembali, berbeda cerita, kali ini aku temukan dia seperti biasa, dia menggenggam tanganku didepan banyak orang. Aneh memang, aku hanya diam saat dia menatapku, berbeda memang. Dia selalu datang kedalam mimpiku dengan berbagai macam sifat dan karakter.

Mimpiku bukanlah sekadar mimpi biasa, semalam terjadi dan aku langsung terbangun pukul 1.30 (kira kira).

Keraguanku semakin kuat, sudah beberapa hari dia tidak mengirim kabar. Aku jadi teringat ketika pertama bertemu dan.. kami balikan. Aku yakin ini terakhir kalinya aku mungkin akan pacaran. Sudah bosan aku membangun hubungan baru lalu entah jadi apa. Entah jadi apa aku sekarang, tempat untuk aku bersandar telah lapuk (aku merasakanya), matanya, ucapanya, sekalipun dia tidak mengatakan dia sungguh sungguh mencintaiku. Sedih memang aku beranggapan ini saatnya berlabuh, tapi dermaga semakin jauh, aku terseret ombak dan hanya bisa menatap dermaga dan berkata, aku ingin pulang.

Mimpi

Aku tidak ingin bermimpi karena membawa penderitaan. Mimpi itu begitu nyata ketika aku datang kepadanya. Aku singgah disebuah rumah dengan pelataran yang cukup luas dan dihadapanku ada sebuah pohon rindang. Ku dipersilakan masuk olehnya, ingin kuurungkan tapi aku ingin menelisik lebih dalam apa yang ada padanya. “aku akan pulang ke ****** ” sebuah daerah tempat ia tinggal dulu. Mengapa? secepat itu? dia pernah mengatakan belum akan pulang.

Kulihat sekelilingku tampak kosong. Aku dengar suara seorang perempuan. kuberanikan diri untuk melihat arah suara itu didalam sebuah kamar bertirai. Seorang wanita diam menatapku penuh tanya. Kusingkirkan langkahku, aku segera pergi dari tempat itu. Tempat dimana aku melihat dia telah membungkam seribu tanda tanya yang selalu mengiang dalam kepalaku.

Ketika ruang tamu kosong, kupergi tanpa berpamitan. Melangkah keluar dari pintu utama dan kukaku, dadaku sesak penuh. Tidak terbayangkan, apa lagi? aku melihat seorang anak laki laki. usianya mungkin baru 4 tahun. Pedih, perih, sakit. Perasaan ingin melepasnya, lalu siapa yang bisa aku salahkan sekarang? jika dia memang telang membohongiku, apa jadinya aku? apa aku harus menangis karena ketidakpastian hubungan ini? apa aku harus marah memaki-makinya? tapi mengapa sejak awal aku tidak berusaha tau tentang dia? mengapa aku mudah percaya kepada seorang laki laki dewasa? apa aku terlalu polos? atau bodoh. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiran, mereka bersuara keras dalam hati dan pikiranku. Aku pergi.

Aku terbangun dalam suasana gelap tanpa cahaya lampu, kutarik selimut dan dadaku masih sakit seperti terhimpit gelapnya hari yang masih pukul 2. Aku telah bangun dari mimpi, tapi aku belum bangun dari impianku. Apa aku harus menghapus impianku? apakah akan ada ikatan diantara kami? apakah dia punya impian yang sama denganku? atau dia tidak ingin terikat denganku, perilakunya berbeda, ketika dia menimpai aku dengan perkataanya, melemparku kesudut hal yang membuatku teringat akan kesalahanku. Apa seumur hidupku aku selalu salah dimatanya? aku tidak bisa berkata apapun. Tapi aku tidak bisa menahan luapan ini, mimpi ini begitu nyata, menghancurkan impianku untuk bisa terikat dalam permikahan. Aku ragu, apa jalan yang kutempuh ini salah, segala cara aku lakukan untuk menghentikan ketidak pedulianya, untuk mengikat matanya agar tidak ada alasan untuk berpaling dariku.

Ketika menulis ini, telingaku memanas, rasanya jantungku terhimpit dan tidah tahan akan keluar. Mataku terasa buram, hatiku terus memerangi. Pergi ! pergi ! tidak ada yang mengatakan tapi aku bisa mendengarnya dalam hatiku. Aku ingin pergi, semua harus pergi, rasa sakit ini harus pergi. Sungguh aku tidak berdaya.