Kaktus

Pesan yang kukirim untukmu bukan semata hanya bualan, penyesalan yang selalu membayangiku, menjadi momok , ketakutanku semakin bertambah ketika semua mulai meninggi. Aku merasakan sepimu, aku merasakan sakitmu, meski hanya setitik. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha keras untuk merubah sikapku, merubah pandangan masa lalu yang menghantuimu. I’ll never go. Meskipun tuntutan kerja aku penuhi, dan aku selalu merasa dilema ketika waktu berjalan, tanggung jawabku bertambah.

Aku akan membuatmu tau,aku bersungguh sungguh, aku berkeyakinan kita akan bersama. Entah itu engkau fikirkan atau hanya harapanku saja. Entah itu anganku atau kau hanya memaksakan ketakutanmu terus ada, tanpa melihat. Ini aku yg sesungguhnya.

Lewat kaktus aku titipkan sebuah pesan, kesan. Rawatlah cintaku, aku sangat merepotkan. Aku tau itu, aku menyebalkan, aku tidak mengerti kamu, aku tidak sepenuhnya punya waktu untukmu, dan aku selalu memintamu mengerti. Aku berharap, inilah ujian kesabaran. Aku diluar sana hanya melakukan kewajiban, bukan untuk meninggalkanmu. Aku akan segera pulang untukmu, aku akan tetap tersenyum untukmu, aku ingin memelukmu dan ingin kukatakan aku mencintaimu.

Advertisements

MUDA

Pijatan pijatan hangat mengepak ketubuhku. Perlahan mulai turun turun lalu sampai.

Suatu siang, dimana aku berbaring menatap yang lainya sedang terlelap. Cahaya memang masih dapat dipandang dari sini
dari lubang lubang kecil yang mana udara bisa berhembus kedalam, kipas siang berputar putar, seiring usapan lembut dan hangat di punggungku makin terasa.

“sebenarnya wanita sepertiku bukan takut untuk kehilangan laki laki ,aku hanya ingin menunjukan jika wanita nakal sepertiku juga punya rasa tulus”

sayup sayup aku dengarkan sebelumnya aku sedikit terlelap.

selesai itu aku hanya diam dan mengangguk angguk jika ditanya. Betapa berat memang mataku untuk menelusuri bangkitnya tubuhku yang sedikit sempoyongan. Lagi lagi aku memimpikanya, aku tidak percaya. Sedikit membuka hati namun, aku selalu memikirkan wanita paruh baya itu. Pelik memang.

Ingin rasanya kuurungkan perjalanan kerjaku, memilih angkot berwarna kuning jalur selatan dan pergi ke Rumi. Sedikit buncah, sampai beberapa kernet berlalu lalang aku hanya menggelengkan kepala.

Bersambung….

MY LOVE TEACH part1

Dedaunan rimbun,Menyelimuti pagi dari timur. Cahaya kemilau menerpa pandangku yang sesekali kuarahkan kelantai bawah,tepat diantara siswi-siswi SMU bergerombol dan kadang saling menertawakan, ada pula yang sedang duduk santai membaca buku, ada yang asyik menenteng barang barang aksesori kepada teman temanya. Namun buka itu yang aku pandang dari pagi ini. Melainkan Seorang siswi cantik yang sedang mengenakan headset hijau sedang membawa kanvas dari jauh, mataku memandangnya dari tadi, dari kejauhan dari sepanjang lorong sekolah yang terjangkau olehku.

Entahlah,Seusai sekolah dia selalu datang ke taman tepatnya dbelakang rumahku.

***

Sepulang mengajar kuletakan tubuhku ini keranjang,tanpa basa basi tanpa kuhiraukan meskipun masih mengenakan sepatu. Tiba tiba suara nyanyian kecil terdengar oleh telingaku. Namun tak sedikit arahku untuk beranjak,hanya mendengar senandung kecil,entahlah itu siapa dan apa yang seseorang lakukan dibelakang rumahku.

Sering aku mendengar senandung itu, tidak ada rasa penasaran olehku, oleh apa dan karena apa tak ada rasa ingin tau. Namun tiba-tiba aku mendengar seseorang jatuh dan suaranya sedikit keras, kusibakan tirai penutup jendela,cukup silau karena pagi masih merambah diketinggian jam keberangkatanku mengajar. Aku bergegas turun dan membalikan arah tubuhku kebelakang rumah, mungkin terkadang aku tidak peduli dengan apa apa saja di sekelilingku, namun kelihatanya gadis itu membutuhkanku,karena tidak ada siapa siapa di dekat rumahku.

“hai,kau tak apa apa?” taganku ku ulurkan seraya ingin membantunya bangkit dari ia duduk, namun dia menepis tanganku, “sombong sekali” batinku.

“hei,kamu berdarah lihatlah” aku melihat kakinya sedikit berdarah, mungkin terluka karena terjatuh

“kamu jatuh dari sana? telunjuku mengarah ke sebuah pohon yang cukup tinggi.

beberapa pertanyaan coba aku berikan ,namun ia tak menjawab satupun,sepatah katapun. Dia hanya beranjak dari ia terjatuh lalu pergi. Entahlah bagiku itu biasa, mungkin dia malu. Anehnya mengapa aku ingin membantuku, jika tau pertolonganku ini ditolak mungkin aku urungkan saja niatku tadi.

***

Setiap sore setelah kejadian itu gadis itu datang,tepat saat aku pulang mengajar. Dia selalu berayun-ayun sendu di ayunan pohon dibelakang rumahku. Hampir setiap hari aku melihatnya. Namun aku tak tau persis wajahnya, karena dia selalu menghadapkan wajahnya ke timur. Dan aku juga tak tau apa yang sebbenarnya ia lakukan disana, menunggu? mungkin saja menunggu seseorang, mungkin umurnya lebih muda dari pada aku, ah aku bicara apa, apa aku tertarik dengan nya? ah tidak, aku hanya mulai penasaran kenapa seusianya yang seharusnya belajar malah sendirian dibelakang rumah orang.

“hei, apa yang kamu lalukan” ah entah,mengapa aku bertanya ini, kulontarkan pertanyaan ini dari atas jendela rumahku dan mungkin ini sedikit tidak sopan. Pantas saja dia hanya menoleh. Ya,saat dia menoleh kearahku, bibirnya, hidung, wajahnya, lembut sekali, meskipun tidak cukup jelas namun wajahnya sangat lembut, matanya sayu, bibirnya berwarna lembut, Matanya kecil sedikit sipit, rambutnya lurus dan berwarna hitam. Ah cantiknya, ada gadis cantik dibelakang rumahku. Tak lama memang, tak lama dia melihatku dari atas sini, kemarin aku tak sempat melihat wajahnya, ah ternyata cantik, menawan, entahlah aku merasa berbunga-bunga.

Aku segera turun, ingin mengenalnya,ya, mungkin ingin mengenalnya. Aku segera berlari dari satu-satu anak tangga rumahku,sepertinya perlahan namun tiba-tiba akku terjatuh. Ah sakit sekali. Namun tak masalah, aku langsung bangkit, tanpa merasakan tulang pinggulku yang sedikit nyeri. Ah sial, dia sudah pergi, tadinya aku hanya ingin  tau namanya saja namun ia sudah pergi, banyak pertanyyaan muncul dari benaku. Dia siapa? setauku aku tidak punya tetangga seperti dia di komplek ini, dan apa yang sebenarnya ia lakukan ? apa yang ia kerjakan disini.

bersambung…

MY LOVE TEACH part 1

Selling love

Kemarin aku melihat acara televisi di stasiun televisi swasta. Sebuah kisah cinta yang cukup rumit, rumit untuk dijelaskan,rumit untuk ditelusuri bahkan rumit untuk dilihat.

Cerita ini sungguh memilukan, Sebut saja Andi (nama samaran) dia bekerja disalah satu perusahaan swasta, dia sudah menikah dan dikaruniai seorang anak yang bernama Sely (nama samaran), ia mempunya seorang istri yang bernama Indah. Andi adalah ayah,suami yang baik,namun selang beberapa tahun mereka menikah, dan Andi mengenal seseorang yang bernama Wita ,Wita adalah kekasih  gelap sekaligus bos dari Andi.

Ketidakwajaran Andi sering diperlihatkan didepan Indah. Wita yaitu bos Andi sering mejemputnya dirumah,kemudian esoknya tak puang dengan alasan lembur dan acara kantor

Suatu hari Indah menanyakan tentang kepulanganya,pekerjaanya. Dan Andi tiba-tiba tersinggung dan marah besar.

Semakin lama hubungan Andi dan Wita diperlihatkan kepada Indah. Tentu saja dia sangat kecewa dan marah, kemarahanya itu menghantarkan kepergian Andi Andi lebih memilih wita, seorang janda kaya yang bisa memberinya harta. Andi meninggalkan keluarga dan juga anaknya Sely karena dia tertipu adanya harta. Sedangkan Indah dan Sely hidup menderita.

 

maari kita renungi cerita ini,mungkin ini bukan hanya cerita,mungkin juga dapat ditemui disekitar kita, banyak orang menggadaikan cinta,anak,istri,keluarga demi harta Mereka pikir semua itu akan membuatnya bahagia.

Kalian Boleh Menghina Kami

by-nuru nonami

“dia memang anak haram, iya anak haram”
beberapa ibi ibu yang memojok di warung itu menunjuki kearah jalanan sempit yang disebut gang. Sementara salah seorang anak mengumpatnya

“anak haraam”

wanita itu hanya terus memangku jalan, biasa, datar dan sedikit angkuh. Kakinya yang jenjang putih dan tampak terawat itu menyusuri gang kumuh yang tampak tercemooh. Untuk apa dia mendengar kalimat kalimat itu bila itulah yang dia emban saat ini.

greeeeek *suara pintu
“ibu? sudah makan? ini bu,” dia menyodorkan sebungkus makanan yang ia buka dari tasnya.”

“dari mana Ris? kamu pergi lagi ketempat kotor itu?”

“kenapa ibu bilang seperti itu? memangnya itu bukan tempat ibu dulu?ibu lupa?”

Risma pergi keluar rumah,membanting kata lalu bergegas untuk dikerubuti umpatan ibu ibu gang kembali.

persetan batinya,dia hanya ingin makan dan bisa terus hidup, ia bukan orang yang munafik, ia hanya jujur dengan apa yang ia hadapi,yang ia kerjakan, bukan menjadi anak yang sok baik. itulah dia.