KEEP ME INSIDE

Keep your body in the middle of the night
Dont keep me inside

You look me
You right
You sing about bluesky
And I go down, than you smile

You sing about the tree
But can be my broken
Ant say, “You never know the mistery”

Than ever, small and so far
not a dissapointed, but my blood so fast
My head and my hand
My Shoulder fall apart

SESAK

Hari ini kusesak
Pagi tadi, malam tadi kusesak

Konsekuensi yang aku takuti, terjadi
Aku mencoba Mengerat dalam dekapan yang dingin
Dekapan dingin yang sudah membeku,karenaku

semakin kutakut, semakin sesak
semakin kusesak, aku membuncahkan
Aku membuncah dan tangan ini menyayat hatiku sendiri
Ketakutan dan rasa kehilangan berangsur beberapa masa
karena sesak ku sendiri

Kuberfikir jauh batas angan, membuat pola, memaki sendiri
Aku dan fikiranku yang sesak
Kutahan bertahun tahun untuk melawan emosional
Tapi kandas di malam tadi
dan aku membuat kesalahan besar lagi
yang tidak termaafkan
meski tiada niat dalam nurani

Daun yang gugur kebumi tak akan bisa lagi kembali pada rantingnya
Daun itu akan membusuk, demi menyuburkan tanah akar pohon
Meskipun Pohon tak mengakui daun itu lagi sebagai bagian dari dirinya
tapi Tuhan lebih tau mana yang sebenarnya
Tuhan kuatkan aku dalam menjalani konsekuensi ini

TITIP LUKA

Kutitip luka, agar bisa kugantung jauh kesakitan yang bernada sumbang
Aku berasa parau karena sesak tak terhingga, sesal yang tidak bisa kuucap
Baru terasa panas membara api yang baranya kusimpan, membakarmu pula

Sakitnya, membuatku terus meradang
Tuhan aku titip luka, sesal yang tidak akan bisa kugadaikan
Jerit, aku menjerit kecewa dengan diriku sendiri

Ranumnya, keindahanya sudah tiada berdecak
Tak mungkin kusuguhkan
Keutuhan sudah bukan miliku
sudah hancur berkeping keping hatiku
tak mungkin kusuguhkan

Begini luka yang kuderita, ketidakmampuanku berjalan dalam duri
duri yang kurajut sendiri
melukaiku, melukaimu
sesal dada ini
sesak jiwa ini
mencengkeram kuat dan kusulit bernafas
kujatuh namun tak jatuh
aku hanya menitip luka, bukan bahagia, maafkan aku

Luka ini menyiksaku
sesal ini menyiksaku
kekecewaanmu atas diriku adalah siksaan terberatku
bukan kau, tapi akulah penyebab

5/4/17 pagi

Hari ini yang kutatap adalah wajahmu dalam anganku, dalam layar ponsel dan tawamu yang bergerak gerak, lalu aku merasakan sesak dalam ulu hatiku.
tidak banyak senyum yang kubuat

Perjalanan yang kutempuh 10 menit berlalu, aku duduk dan berkaca. Aku melihat Tulisan itu, ulu hatiku kembali sakit, saat menyakiti akulah yang lebih tersakiti. Akulah kesakitanmu. Mengulang kembali pertanyaan yang kau tulis, mengulang kembali pertanyaan yang kau tulis dalam pesanmu. Jika berlalu aku bahagia, jika suara kembali menderu, tangisku tak kalah pecah. Aku bergumam dalam hati, apa maafmu hanya kebaikan dan kesaksian ? jika itu bukan hal yang sebenarnya yang kamu inginkan. Hidupku tak lagi seoptimis dulu. Aku tidak sanggup melihat derita yang kamu alami terus menerus, ingin kubuat bahagia, namun aku semakin menyakiti. keinginan hanya harapan, aku hanya pelak bagimu.

Aku tidak menyerah, tidak. Aku hanya takut menyakitimu lagi. Gunjingan yang mungkin akan muncul. Tekanan dan sakit yang semakin datang, kerasnya hidup kau tak akan lagi bisa tersenyum, kau tidak lagi berupaya karena kau pernah kecewa. Seperti katamu. Yang aku rasa jawabanmu tidak yakin denganku saat ini.

Jika Tuhan Bekehendak lain lagi pada hidupku, sebisa mungkin akan aku lakukan yang terbaik, sebisaku, meskipun kadang aku tidak mengerti dan tidak memahami.

JANGAN COBA

Siul kusiulkan dalam malam, tiada burung beterbangan
Andai indah yang tercipta tak runtuh
Andai Kasih yang tercipta bukan kepalsuan
Bukan sesal
Aku hanya tidak ingin mencoba

Sekarang aku berdiri diatas runtuhnya
Sekarang aku menatap jauh Ragu kepalsuan
Hanya aku sesal, menyesal pernah datang

Tumpuanku telah lenyap, begitu angin berkata
Aku sendiri terombang ambing
Pernah terombang ambing
Jangan coba,
Datang dihadapanku, atau kumusnahkan
Datang Dibalik laluan yang kulewati, atau kuhancurkan dirimu

Jangan coba
Menghindarlah, dari pandang mata
Karena bukan kutak bisa, tapi umpatanku tidak akan pernah berhenti
Sebelum kau berlalu

Kau busukan sendiri sajianku
Kau Rendahkan sendiri martabatmu
Kau patahkan sendiri kakimu
Kau Hunuskan sendiri dadamu
Kau Bakar sendiri tubuhmu

Jangan mencoba menyalahkanku

Iya Begitu

Kuletakan dengan keras tas besar di kasur, kubaringkan tubuhku diatas kasur ukuran besar, terlalu besar mungkin jika aku berbaring aku akan selalu kesepian.

Hawa panas menyergap di wajahku. Leherku lalu turun. Mataku berkunang, aku melemah. Aku terjatuh dipagi kemarin. Dan hari ini aku mulai melemah. Lagi. Hidungku tertusuk, sakit. Tenggorokanku tercekik, sakit. Dadaku terhimpit, sakit. Kuhirup dalam dalam udara masuk kerongga dadaku, dan kedua kuhirup dengan mulut dalam dalam, udara masuk menggerak pula diafragma. Kuhembuskan perlahan. Keningku tertimpa tembok. Kutengok tembok ruang masi tegap kokoh. Tuhan yang berkuasa.

Aku berlari direrumputan hijau, melompat pada kubangan tanah. Memanjat tinggi tower. Tapi aku masi berbaring.

Perutku berbunyi ” aku butuh kau isi” tapi otakku menolak ” jika kau hentikan, semua akan selesai” dunia ini akan selesai. Hidup yg akan selesai. Kekhawatiranku akan selesai, tidak ada kesepian dalam keramaian. Tidak ada jahat dalam kebaikan. Manusia itu jahat, bukan dunia. Bukan dunia yang menenggelamkanmu tapi manusia yang menguburmu.  Tidak ada ketidakpedulian dalam kepedulian. Tidak ada pewaris yang mewarisi jejelekan dan hinaan. Bukankah jika aku tak ada tidak ada pewaris wataku.

Maaf Tuhan, begitu rumit aku berfikir. Begitu buruk aku memulainya. Jika tali yang kukaitkan ini goyah Tuhan, aku akan jadi baju yang kehilangan kancingnya. Ya Tuhan, apa harus ada pernikahan? Apakah wanita dan pria harus menikah? Dan apakah perlu untuk saling menyukai dan mencintai. Bukankah lebih indah mencintaiMu? Jika aku takut Engkau berpaling dariku, Engkau menyuruhku untuk lebih dekat. Jika manusia takut untuk kehilangan yang dicintainya, mengapa aku diusir? Benarkah manusia harus saling menyukai?

Aku tidak meminta mati Ya Tuhanku meskipun aku tau aku akan mati yang tidak tau kapan, aku hanya bercerita kesedihanku. Aku akan hidup sampai matiku, meskipun hanya tinggal sisa dari memori tentangku. Aku hanya suka bergeming, bergeming yang tidak disukai orang lain. Lalu aku bercerita. KepadaMu, karena Engkau paling tau bagaimana yang terjadi sedangkan orang lain tidak tau. Aku baik baik saja dalam tangisku Tuhan. Aku hanya ingin menuliskan kegelisahanku. Menuliskan air mata yang tidak akan berhenti. Karena perasaan ini. Karena aku hanya ingin menangis. 

Ya Tuhan adakah yang akan membalut tubuhku dengan pelukan?bukan yang menyuruhku untuk mendekat kekobaran api. Adakah yang akan menyuapiku denyan tanganya? Bukan hanya menyuruhku makan. Adakah yang melindungiku dari pukulan orang lain ketika aku bersalah, meskipun dia akan menghukumku dalam rumahnya? Atau aku akan di pukul dikhalayak ramai dan dimanja dalam rumahnya? 

ya malam

Saat ini aku sedang bergumam pada malam. Malam.. Mengapa malam ini begitu dingin. Adakah kehangatan untuku, karena hanya ada dingin dan ketusnya obrolan. Malam, mengapa dingin malam ini? Aku hanya bercerita apa yang aku fikirkan dalam batinku mengapa malam ini begitu dingin dari biasanya. Malam? Akankah engkau menyalahkanku kenapa aku mengatakan malam begitu dingin? Bisakah kau jelaskan padaku mengapa dingin ini membuatku mengeluh? Apa aku boleh bercerita? Bukan kau yang membuat dingin, tapi angin. Mungkin karena hanya ada kau malam aku bercerita. Karena tak satupun angin ada didekatku, dia berlalu melewati tubuh ini. Jadi hanya padamu malam aku bertanya dan bercerita. Karena satu satunya kau yang aku punyai.