5/4/17 pagi

Hari ini yang kutatap adalah wajahmu dalam anganku, dalam layar ponsel dan tawamu yang bergerak gerak, lalu aku merasakan sesak dalam ulu hatiku.
tidak banyak senyum yang kubuat

Perjalanan yang kutempuh 10 menit berlalu, aku duduk dan berkaca. Aku melihat Tulisan itu, ulu hatiku kembali sakit, saat menyakiti akulah yang lebih tersakiti. Akulah kesakitanmu. Mengulang kembali pertanyaan yang kau tulis, mengulang kembali pertanyaan yang kau tulis dalam pesanmu. Jika berlalu aku bahagia, jika suara kembali menderu, tangisku tak kalah pecah. Aku bergumam dalam hati, apa maafmu hanya kebaikan dan kesaksian ? jika itu bukan hal yang sebenarnya yang kamu inginkan. Hidupku tak lagi seoptimis dulu. Aku tidak sanggup melihat derita yang kamu alami terus menerus, ingin kubuat bahagia, namun aku semakin menyakiti. keinginan hanya harapan, aku hanya pelak bagimu.

Aku tidak menyerah, tidak. Aku hanya takut menyakitimu lagi. Gunjingan yang mungkin akan muncul. Tekanan dan sakit yang semakin datang, kerasnya hidup kau tak akan lagi bisa tersenyum, kau tidak lagi berupaya karena kau pernah kecewa. Seperti katamu. Yang aku rasa jawabanmu tidak yakin denganku saat ini.

Jika Tuhan Bekehendak lain lagi pada hidupku, sebisa mungkin akan aku lakukan yang terbaik, sebisaku, meskipun kadang aku tidak mengerti dan tidak memahami.

JANGAN COBA

Siul kusiulkan dalam malam, tiada burung beterbangan
Andai indah yang tercipta tak runtuh
Andai Kasih yang tercipta bukan kepalsuan
Bukan sesal
Aku hanya tidak ingin mencoba

Sekarang aku berdiri diatas runtuhnya
Sekarang aku menatap jauh Ragu kepalsuan
Hanya aku sesal, menyesal pernah datang

Tumpuanku telah lenyap, begitu angin berkata
Aku sendiri terombang ambing
Pernah terombang ambing
Jangan coba,
Datang dihadapanku, atau kumusnahkan
Datang Dibalik laluan yang kulewati, atau kuhancurkan dirimu

Jangan coba
Menghindarlah, dari pandang mata
Karena bukan kutak bisa, tapi umpatanku tidak akan pernah berhenti
Sebelum kau berlalu

Kau busukan sendiri sajianku
Kau Rendahkan sendiri martabatmu
Kau patahkan sendiri kakimu
Kau Hunuskan sendiri dadamu
Kau Bakar sendiri tubuhmu

Jangan mencoba menyalahkanku

Iya Begitu

Kuletakan dengan keras tas besar di kasur, kubaringkan tubuhku diatas kasur ukuran besar, terlalu besar mungkin jika aku berbaring aku akan selalu kesepian.

Hawa panas menyergap di wajahku. Leherku lalu turun. Mataku berkunang, aku melemah. Aku terjatuh dipagi kemarin. Dan hari ini aku mulai melemah. Lagi. Hidungku tertusuk, sakit. Tenggorokanku tercekik, sakit. Dadaku terhimpit, sakit. Kuhirup dalam dalam udara masuk kerongga dadaku, dan kedua kuhirup dengan mulut dalam dalam, udara masuk menggerak pula diafragma. Kuhembuskan perlahan. Keningku tertimpa tembok. Kutengok tembok ruang masi tegap kokoh. Tuhan yang berkuasa.

Aku berlari direrumputan hijau, melompat pada kubangan tanah. Memanjat tinggi tower. Tapi aku masi berbaring.

Perutku berbunyi ” aku butuh kau isi” tapi otakku menolak ” jika kau hentikan, semua akan selesai” dunia ini akan selesai. Hidup yg akan selesai. Kekhawatiranku akan selesai, tidak ada kesepian dalam keramaian. Tidak ada jahat dalam kebaikan. Manusia itu jahat, bukan dunia. Bukan dunia yang menenggelamkanmu tapi manusia yang menguburmu.  Tidak ada ketidakpedulian dalam kepedulian. Tidak ada pewaris yang mewarisi jejelekan dan hinaan. Bukankah jika aku tak ada tidak ada pewaris wataku.

Maaf Tuhan, begitu rumit aku berfikir. Begitu buruk aku memulainya. Jika tali yang kukaitkan ini goyah Tuhan, aku akan jadi baju yang kehilangan kancingnya. Ya Tuhan, apa harus ada pernikahan? Apakah wanita dan pria harus menikah? Dan apakah perlu untuk saling menyukai dan mencintai. Bukankah lebih indah mencintaiMu? Jika aku takut Engkau berpaling dariku, Engkau menyuruhku untuk lebih dekat. Jika manusia takut untuk kehilangan yang dicintainya, mengapa aku diusir? Benarkah manusia harus saling menyukai?

Aku tidak meminta mati Ya Tuhanku meskipun aku tau aku akan mati yang tidak tau kapan, aku hanya bercerita kesedihanku. Aku akan hidup sampai matiku, meskipun hanya tinggal sisa dari memori tentangku. Aku hanya suka bergeming, bergeming yang tidak disukai orang lain. Lalu aku bercerita. KepadaMu, karena Engkau paling tau bagaimana yang terjadi sedangkan orang lain tidak tau. Aku baik baik saja dalam tangisku Tuhan. Aku hanya ingin menuliskan kegelisahanku. Menuliskan air mata yang tidak akan berhenti. Karena perasaan ini. Karena aku hanya ingin menangis. 

Ya Tuhan adakah yang akan membalut tubuhku dengan pelukan?bukan yang menyuruhku untuk mendekat kekobaran api. Adakah yang akan menyuapiku denyan tanganya? Bukan hanya menyuruhku makan. Adakah yang melindungiku dari pukulan orang lain ketika aku bersalah, meskipun dia akan menghukumku dalam rumahnya? Atau aku akan di pukul dikhalayak ramai dan dimanja dalam rumahnya? 

ya malam

Saat ini aku sedang bergumam pada malam. Malam.. Mengapa malam ini begitu dingin. Adakah kehangatan untuku, karena hanya ada dingin dan ketusnya obrolan. Malam, mengapa dingin malam ini? Aku hanya bercerita apa yang aku fikirkan dalam batinku mengapa malam ini begitu dingin dari biasanya. Malam? Akankah engkau menyalahkanku kenapa aku mengatakan malam begitu dingin? Bisakah kau jelaskan padaku mengapa dingin ini membuatku mengeluh? Apa aku boleh bercerita? Bukan kau yang membuat dingin, tapi angin. Mungkin karena hanya ada kau malam aku bercerita. Karena tak satupun angin ada didekatku, dia berlalu melewati tubuh ini. Jadi hanya padamu malam aku bertanya dan bercerita. Karena satu satunya kau yang aku punyai.

2 oktober 2015

‚Äč2 oktober 2015
Bau anyir, kapur wangi dan sabun batang menusuk rongga hidungku, kututup jendela yang tersibak tirainya dipukul 12, berita kematian sampai, tapi sejak kemarin bau anyir dan kematian sudah tercium.

Angin malam mulai menurun suhunya tapi gerak semakin hebat, menderu mengoyak koyak tirai atas tempat kuberbaring. Hari ini begitu dingin. Hingga kututup semua bagian tubuhku. Bau anyir, merinding, esok ada lagi yang pergi. Orang yang biasa kusapa dipagi hari, tiada kudengar seperti ia tak dengar. Tapi tubuhku semakin merinding lalu kuberbaring dan menarik selimut.

Halo

Halo apa kabar diriku, dear. Pertanyaan yang muncul dalam benakku. Siapa dan bagaimana aku. Seseorang membukakan mataku, betapa kekanak kanakanya aku. Aku kira aku ini cukup dewasa. Tapi tidak:'(:'( aku tidak pernah dewasa. Menghadapi masalah, ternyata aku tidak bisa . Untuk bisa mengungkapkan suatu hal, itu kelemahanku. Aku lebih sering menangis saat menemui masalah. Iya memang seperti anak kecil. Benar saja tidak ada yang menerimaku :|. Baru tersadar jika aku hanya sok dewasa. Lalu bagaimana Tuhan? Jika kau tak turunkan air dari langit mungkin aku tak akan kenal yang namanya hujan. Jika tak Engkau kirimkan penyakit, mungkin aku tidak akan tau apa itu kesembuhan.

Tuhanku, bolehkah aku sedikit bercerita lewat tulisan ini? Aku sakit apa ya Tuhanku, bisakah aku sembuh dari penyakit ini.

Tau kau

Tau kau ketika tidur kuimpikan dirimu

Tau kau ketika malam merindukanmu adalah hal yang tiap hari aku lakukan

Tau kau ketika kugenggam tangganmu, jantungku berdetak kencang serasa ingin meledak

Tau kau ketika kutatap wajahmu, aku berkata Tuhan mempertemukan kita dengan cara seperti ini

Tau kau ketika kutau hal itu, aku ingin berlari padamu.. Tetap bersamaku apapun yang terjadi

Tau kau kutak akan pergi kecuali kamu memintanya

Tau kau cukup sekali kau katakan aku harus pergi

Tapi kukembalikan padamu, aku tak benar benar pergi, aku masih disini, memikirkanmu, merindukanmu. Masihkah kau berfikir aku memikirkan yang lain ?