6 Juli 2015

Jika dulu Tuhan membukakan mataku dan hal pertama yang kulihat adalah hal yang mustahil, namun perasaan yang melekat ini sangat ingin kuperjuangkan, tidak peduli datangnya seseorang yang menentang. Tapi, akhirnya kumulai ragu dan mundur.

Ketika kubuka mata dan hal yang pertama kulihat sangat ingin kuperjuangkan sudah kudapati, tapi sekarang kumulai ragu kembali, sudah jalan selama ini, tapi dia yang kupercaya mulai pudar cintanya, aku sangat menginginkannya, jauh dari apa yang dia tau, aku berjanji akan selalu bersamanya, meskipun amarah meledak aku tetap akan terus mengatakan aku sayang padamu, seberat apa cobaan dalam duniaku aku akan selalu mengingat kewajibanku terhadapmu, tapi bukan cobaan untuk kehilangan cinta dan perhatianmu.

Aku bukan wanita yang menarik, tapi aku berusaha ingin selalu memanjakanmu, tapi jika pagar yang kubangun begitu tinggi sehingga menutupimu, aku tidak sadar akan hal itu. tapi jika waktumu selama 24 jam itu kau singkirkan aku, aku sangat kecewa terhadap sikapmu, tapi maaf pun tidak untukku karena kau merasa itu bukan kesalahanmu.

Aku sudah berusaha untuk selalu menjaga perasaanmu, kuluangkan kusingkirkan keegoisanku untuk meminta maaf, karena bagaimanapun aku tidak berhak marah atas dirimu, malam berganti siang, semakin lama cintamu mungkin memudar, ketika kuragu kau tidak membuatku merasa nyaman, tapi membiarkan aku berceloteh dengan pemahamanku sendiri, inikah kekhawatiran dulu? dimana hubungan ini semakin sulit dan kau semakin jauh, aku dekat denganmu, tapi mengapa aku ragu dengan cintamu? apa kamu masih mencintaiku?

Advertisements

INI

Keraguan yang selalu singgah, bayang bayang semu yang merusak perhatian, seketika pula akan sirna ketika peluhku kauusap dengan nada suaramu, ketika kupeluk begitu damai. bisakah kukatakan aku sedang bersedih? tidak. aku sangat mendambakan hal ini, bersamamu, tertawa, ejekan ejekan itu membuatku selalu merindukanmu.

ketika malam kugelisah, ku buncah. ketika tidur tak juga terpejam, kubayangkan dirimu selalu memeluk sepanjang malam, meski kutau saat fajar kau tak pernah ada. Tapi semalam memimpikanmu membuat hariku semakin merajuk, aku tak bisa jauh darimu 🙂

Mimpi ke-2

Semalam tepatnya, setelah memimpikan apa yang ia sembunyikan bahwa ia sudah menikah (masih menjadi pertanyaan) atau lebih tepatnya tinggal serumah dengan seorang wanita dan juga anak laki laki. Hari berikutnya aku memimpikanya kembali, berbeda cerita, kali ini aku temukan dia seperti biasa, dia menggenggam tanganku didepan banyak orang. Aneh memang, aku hanya diam saat dia menatapku, berbeda memang. Dia selalu datang kedalam mimpiku dengan berbagai macam sifat dan karakter.

Mimpiku bukanlah sekadar mimpi biasa, semalam terjadi dan aku langsung terbangun pukul 1.30 (kira kira).

Keraguanku semakin kuat, sudah beberapa hari dia tidak mengirim kabar. Aku jadi teringat ketika pertama bertemu dan.. kami balikan. Aku yakin ini terakhir kalinya aku mungkin akan pacaran. Sudah bosan aku membangun hubungan baru lalu entah jadi apa. Entah jadi apa aku sekarang, tempat untuk aku bersandar telah lapuk (aku merasakanya), matanya, ucapanya, sekalipun dia tidak mengatakan dia sungguh sungguh mencintaiku. Sedih memang aku beranggapan ini saatnya berlabuh, tapi dermaga semakin jauh, aku terseret ombak dan hanya bisa menatap dermaga dan berkata, aku ingin pulang.

Mimpi

Aku tidak ingin bermimpi karena membawa penderitaan. Mimpi itu begitu nyata ketika aku datang kepadanya. Aku singgah disebuah rumah dengan pelataran yang cukup luas dan dihadapanku ada sebuah pohon rindang. Ku dipersilakan masuk olehnya, ingin kuurungkan tapi aku ingin menelisik lebih dalam apa yang ada padanya. “aku akan pulang ke ****** ” sebuah daerah tempat ia tinggal dulu. Mengapa? secepat itu? dia pernah mengatakan belum akan pulang.

Kulihat sekelilingku tampak kosong. Aku dengar suara seorang perempuan. kuberanikan diri untuk melihat arah suara itu didalam sebuah kamar bertirai. Seorang wanita diam menatapku penuh tanya. Kusingkirkan langkahku, aku segera pergi dari tempat itu. Tempat dimana aku melihat dia telah membungkam seribu tanda tanya yang selalu mengiang dalam kepalaku.

Ketika ruang tamu kosong, kupergi tanpa berpamitan. Melangkah keluar dari pintu utama dan kukaku, dadaku sesak penuh. Tidak terbayangkan, apa lagi? aku melihat seorang anak laki laki. usianya mungkin baru 4 tahun. Pedih, perih, sakit. Perasaan ingin melepasnya, lalu siapa yang bisa aku salahkan sekarang? jika dia memang telang membohongiku, apa jadinya aku? apa aku harus menangis karena ketidakpastian hubungan ini? apa aku harus marah memaki-makinya? tapi mengapa sejak awal aku tidak berusaha tau tentang dia? mengapa aku mudah percaya kepada seorang laki laki dewasa? apa aku terlalu polos? atau bodoh. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiran, mereka bersuara keras dalam hati dan pikiranku. Aku pergi.

Aku terbangun dalam suasana gelap tanpa cahaya lampu, kutarik selimut dan dadaku masih sakit seperti terhimpit gelapnya hari yang masih pukul 2. Aku telah bangun dari mimpi, tapi aku belum bangun dari impianku. Apa aku harus menghapus impianku? apakah akan ada ikatan diantara kami? apakah dia punya impian yang sama denganku? atau dia tidak ingin terikat denganku, perilakunya berbeda, ketika dia menimpai aku dengan perkataanya, melemparku kesudut hal yang membuatku teringat akan kesalahanku. Apa seumur hidupku aku selalu salah dimatanya? aku tidak bisa berkata apapun. Tapi aku tidak bisa menahan luapan ini, mimpi ini begitu nyata, menghancurkan impianku untuk bisa terikat dalam permikahan. Aku ragu, apa jalan yang kutempuh ini salah, segala cara aku lakukan untuk menghentikan ketidak pedulianya, untuk mengikat matanya agar tidak ada alasan untuk berpaling dariku.

Ketika menulis ini, telingaku memanas, rasanya jantungku terhimpit dan tidah tahan akan keluar. Mataku terasa buram, hatiku terus memerangi. Pergi ! pergi ! tidak ada yang mengatakan tapi aku bisa mendengarnya dalam hatiku. Aku ingin pergi, semua harus pergi, rasa sakit ini harus pergi. Sungguh aku tidak berdaya.

May 5 Tahun lalu

Kembang tenggelam menyerang, serbuk sari berkembang tak jadi. Apa kabar kau yang disana? aku adalah sababatmu, bukan kasihmu, aku hanya melihat bukan mengamati. Musim berganti, air tak lagi surut, mulai pasang, cintaku beralih kepada seseorang, dia berada sesak penuh dalam angan dan pandang. Tidak ada lagi sisa untuk yang lain.

Berjuanglah untuk asa yang telah kau bangun, kudengar kau terpuruk, aku tidak akan mengulur maaf, aku tidak berkata maaf, karena kau yang dulu berpaling. Aku tidak menyesal atas kepergianmu, memang aku yang menginginkan kau pergi dengan perempuanmu. Karena May 5 tahun lalu telah berlalu, karena may 5 tahun lalu tidak ada kesan yang tersisa. May tahun lalu bahkan benci yang tercipta aku tak lagi mengingatnya. Aku sudah lupa apa yang terjadi may 5 tahun lalu.

16 Apr 2015

Malam mengalunkan deru air yang sangat deras,bukan hujan, sudah sejak kemarin ia membangun dinding dinding tebal penghalang, dia yang membangun dinding penghalang yang tidak aku pungkiri itu sangat membuatku gelisah.

Aku bertanya padanya, masihkah ada rasa cinta. Sudah selama ini dia bungkam dengan pertanyaanku. Aku menanyakan ini, karena aku melihat ketidakadilan didalam matanya, dia menghakimiku dengan kata katanya tapi matanya tidak cinta. Matanya terhalang dinding tebal yang ia buat sendiri, aku mencoba untuk terlepas, melepaskan diri dari dinding itu, melepaskanya, agar kami terbebas dari dinding itu, tapi dia memilih untuk diam terpenjara sedangku berusaha merobohkan dinding itu sendirian, tapi ku ikut hancur dan dia hanya diam.

MY LOVE TEACH part1

Dedaunan rimbun,Menyelimuti pagi dari timur. Cahaya kemilau menerpa pandangku yang sesekali kuarahkan kelantai bawah,tepat diantara siswi-siswi SMU bergerombol dan kadang saling menertawakan, ada pula yang sedang duduk santai membaca buku, ada yang asyik menenteng barang barang aksesori kepada teman temanya. Namun buka itu yang aku pandang dari pagi ini. Melainkan Seorang siswi cantik yang sedang mengenakan headset hijau sedang membawa kanvas dari jauh, mataku memandangnya dari tadi, dari kejauhan dari sepanjang lorong sekolah yang terjangkau olehku.

Entahlah,Seusai sekolah dia selalu datang ke taman tepatnya dbelakang rumahku.

***

Sepulang mengajar kuletakan tubuhku ini keranjang,tanpa basa basi tanpa kuhiraukan meskipun masih mengenakan sepatu. Tiba tiba suara nyanyian kecil terdengar oleh telingaku. Namun tak sedikit arahku untuk beranjak,hanya mendengar senandung kecil,entahlah itu siapa dan apa yang seseorang lakukan dibelakang rumahku.

Sering aku mendengar senandung itu, tidak ada rasa penasaran olehku, oleh apa dan karena apa tak ada rasa ingin tau. Namun tiba-tiba aku mendengar seseorang jatuh dan suaranya sedikit keras, kusibakan tirai penutup jendela,cukup silau karena pagi masih merambah diketinggian jam keberangkatanku mengajar. Aku bergegas turun dan membalikan arah tubuhku kebelakang rumah, mungkin terkadang aku tidak peduli dengan apa apa saja di sekelilingku, namun kelihatanya gadis itu membutuhkanku,karena tidak ada siapa siapa di dekat rumahku.

“hai,kau tak apa apa?” taganku ku ulurkan seraya ingin membantunya bangkit dari ia duduk, namun dia menepis tanganku, “sombong sekali” batinku.

“hei,kamu berdarah lihatlah” aku melihat kakinya sedikit berdarah, mungkin terluka karena terjatuh

“kamu jatuh dari sana? telunjuku mengarah ke sebuah pohon yang cukup tinggi.

beberapa pertanyaan coba aku berikan ,namun ia tak menjawab satupun,sepatah katapun. Dia hanya beranjak dari ia terjatuh lalu pergi. Entahlah bagiku itu biasa, mungkin dia malu. Anehnya mengapa aku ingin membantuku, jika tau pertolonganku ini ditolak mungkin aku urungkan saja niatku tadi.

***

Setiap sore setelah kejadian itu gadis itu datang,tepat saat aku pulang mengajar. Dia selalu berayun-ayun sendu di ayunan pohon dibelakang rumahku. Hampir setiap hari aku melihatnya. Namun aku tak tau persis wajahnya, karena dia selalu menghadapkan wajahnya ke timur. Dan aku juga tak tau apa yang sebbenarnya ia lakukan disana, menunggu? mungkin saja menunggu seseorang, mungkin umurnya lebih muda dari pada aku, ah aku bicara apa, apa aku tertarik dengan nya? ah tidak, aku hanya mulai penasaran kenapa seusianya yang seharusnya belajar malah sendirian dibelakang rumah orang.

“hei, apa yang kamu lalukan” ah entah,mengapa aku bertanya ini, kulontarkan pertanyaan ini dari atas jendela rumahku dan mungkin ini sedikit tidak sopan. Pantas saja dia hanya menoleh. Ya,saat dia menoleh kearahku, bibirnya, hidung, wajahnya, lembut sekali, meskipun tidak cukup jelas namun wajahnya sangat lembut, matanya sayu, bibirnya berwarna lembut, Matanya kecil sedikit sipit, rambutnya lurus dan berwarna hitam. Ah cantiknya, ada gadis cantik dibelakang rumahku. Tak lama memang, tak lama dia melihatku dari atas sini, kemarin aku tak sempat melihat wajahnya, ah ternyata cantik, menawan, entahlah aku merasa berbunga-bunga.

Aku segera turun, ingin mengenalnya,ya, mungkin ingin mengenalnya. Aku segera berlari dari satu-satu anak tangga rumahku,sepertinya perlahan namun tiba-tiba akku terjatuh. Ah sakit sekali. Namun tak masalah, aku langsung bangkit, tanpa merasakan tulang pinggulku yang sedikit nyeri. Ah sial, dia sudah pergi, tadinya aku hanya ingin  tau namanya saja namun ia sudah pergi, banyak pertanyyaan muncul dari benaku. Dia siapa? setauku aku tidak punya tetangga seperti dia di komplek ini, dan apa yang sebenarnya ia lakukan ? apa yang ia kerjakan disini.

bersambung…

MY LOVE TEACH part 1