INI

Keraguan yang selalu singgah, bayang bayang semu yang merusak perhatian, seketika pula akan sirna ketika peluhku kauusap dengan nada suaramu, ketika kupeluk begitu damai. bisakah kukatakan aku sedang bersedih? tidak. aku sangat mendambakan hal ini, bersamamu, tertawa, ejekan ejekan itu membuatku selalu merindukanmu.

ketika malam kugelisah, ku buncah. ketika tidur tak juga terpejam, kubayangkan dirimu selalu memeluk sepanjang malam, meski kutau saat fajar kau tak pernah ada. Tapi semalam memimpikanmu membuat hariku semakin merajuk, aku tak bisa jauh darimu 🙂

Advertisements

Februari Kematian

Musim hujan, gelegar petir yang meredam, tumbuhan sudah hijau. Sadar ketika pagiku tersenyum melewati setiap gang yang selalu aku lewati tiap pagi,tiap sore, perasaan riang, membagi hasil panen semalam, 1 2 3 kuberi pada kawan kawan, dengan hati senang, bukan karena memberi, tapi karena aku sedang memikirkan kegembiraanku hari ini.

Kubuka sebuah pesan di media sosial, mulutku kubungkam rapat, air mata terus mengalir, membaca sebuah pesan yang membuatku teramat sakit, hancur dan tidak pernah kubayangkan. Aku selalu bilang, butuh banyak hal membuatku jatuh dan sakit, terpuruk, tapi karenamu aku jadi tegar, karenamu aku jadi riang, karena keceriaan ini sungguh tidak pernah aku dapatkan. Karena kekuatanku ada pada kesetiaanmu, karena ketegaranku ada pada setiap perhatian yang kau berikan. Sungguh aku tidak bisa berbuat apapun, jantungku seperti tertusuk, sakitnya melebihi sakit yang pernah aku alami, sesak nafasku, melebihi sesaknya November-Februari 2013 sakit yang selalu aku ingat, yang tidak kusangka akan terjadi, sebuah pesan mengejutkan, aku berhenti sejenak, kutarik nafasku, aku semakin menangis sejadi-jadinya. Tuhan apakah ini benar? dia menyebutmu berulang-ulang demi memberikan kesaksian itu padaku, sesulitkah itu februariku? sakitkah februariku? tidak henti-hentinya aku membaca pesan itu, hatiku panas, sesak, sakit, aku mulai tidak sadar. Apa aku sebodoh itu untuk mengetahui orang lain? benarkan aku sudah teramat dibohongi olehnya? jika iya dosakah aku ?

Semalaman aku tidak bisa tidur, tidak makan aku terus memikirkan hal itu, tanpa henti, ketika mengingat pesan itu aku menangis, benar- benar ini adalah kematian untuku. Ini adalah kematian dibulan ini, sesak sekali ya Tuhan. Salah apa aku ini? karma atau petunjuk apa ini? apa aku terlalu percaya padanya? apa ini teguran untuku? aku harus bertanya pada siapa tentang kebenaran ini? aku harus bertanya kepada siapa? aku ingin kebenaran tentang kematian ini. Sebelum semua terlambat, aku ingin tau, benarkah awan diujung sana mulai cerah, atau sebuah mendung, petir dan kilat adanya? jika jarak menyembunyikan jarak pandangku juga, maka Engkau bisa mengutus angin sepoi, angin dasyat bahkan angin yang benar-benar membuat kematianku dibulan februari ini adalah sebuah mendung yang sangat tidak diinginkan olehku.

Sembari itu pula aku pinta padaMu yang Kuasa, atas segala yang ada didunia ini, yang tidak terlihat oleh mataku, Engkaulah mata yang sebenarnya, dan segala telinga yang dapat mendengar, Engkaulah Pendengar yang sesungguhnya. Berikan aku berita yang sesungguhnya, Tentang kematian siapa di Februari ini.

Kamu

buku buku yang aku letakan dibelakang rak itu tiba tiba aku ingin membukanya. Ya benar, ketika itu aku menggambarmu dalam anganku, tepat dalam benak dan dalam relung hatiku. Kamu, ada kamu, yang membuatku malu ,sangat malu karena aku begitu menyukaimu.

Aku lupa denganmu, lupa wajah dan kebaikan mu, dan aku membukanya sekali lagi, dalam buku yang aku gambarkan tentang mu. Dan aku ingin duduk dan dekat dengan mu, itu mustahil, aku hanya bersandar di kursi dan memandang gambar sketmu yang aku buat tahun lalu. Sungguh ironi, ternyata aku disini sedang dalam kesendirian.

Nuru Nonami